Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berziarah ke Pajimatan Imogiri di Bantul: Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Puncak Bukit Merak

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 4 Agustus 2024 | 06:54 WIB
Pajimatan Imogiri. (foto: gudangjogja.id)
Pajimatan Imogiri. (foto: gudangjogja.id)

RADAR JOGJA - Makam Raja Pajimatan Imogiri terletak di Dusun Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul, sekitar 17 kilometer di selatan pusat kota Yogyakarta. Berada di puncak Bukit Merak dengan ketinggian 85 meter di atas permukaan laut. 

Nama Pajimatan berasal dari kata “jimat” yang berarti sesuatu yang memiliki kekuatan untuk melindungi dari berbagai hal negatif. Nama ini digunakan untuk menandai kompleks makam sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram yang dianggap sakti dan dapat melindungi kerajaan dari ancaman. Dusun di sekitar makam juga dikenal dengan nama Pajimatan, yang penduduknya merupakan abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta yang bertugas merawat kompleks makam.

Pembangunan Makam Pajimatan Imogiri diprakarsai oleh Sultan Agung setelah pusat pemerintahan Mataram dipindahkan dari Kotagede ke Kerto pada tahun 1540 Saka (1616 Masehi). 

Mitos mengatakan bahwa Sultan Agung memilih lokasi makam dengan melempar pasir, yang akhirnya jatuh di Bukit Merak setelah sebelumnya di Giriloyo. Pembangunan makam dimulai pada tahun 1554 Saka (1632 Masehi) dan selesai pada tahun 1566 Saka (1645 Masehi). Makam pertama kali digunakan pada tahun 1568 Saka (1644 Masehi) saat Sultan Agung mangkat.

Kompleks Makam Pajimatan Imogiri dibagi menjadi delapan bagian atau astana, yaitu:

• Astana Sultan Agungan: Tempat makam Sultan Agung dan Susuhunan Amangkurat II (Amral).

• Astana Paku Buwanan: Makam Susuhunan Paku Buwana I (Pangeran Puger), Susuhunan Amangkurat IV, dan Susuhunan Paku Buwana II.

• Astana Kasuwargan: Makam Susuhunan Paku Buwana III, IV, dan V.

• Astana Kaping Sangan: Makam Susuhunan Paku Buwana VI, VII, VIII, dan IX.

• Astana Kaping Sedasan: Makam Susuhunan Paku Buwana X, XI, dan XII.

• Astana Suwargan: Makam Sultan Hamengku Buwana I dan III.

• Astana Besiyaran: Makam Sultan Hamengku Buwana IV, V, dan VI.

• Astana Saptarenggo: Makam Sultan Hamengku Buwana VII, VIII, dan IX.

Antar astana dibatasi oleh tembok dan pintu masuk berbentuk gapura, dengan halaman yang dipisahkan untuk memisahkan area sakral dan non-sakral.

Makam Imogiri sangat dihormati oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta serta masyarakat umum. Beberapa aturan bagi pengunjung/peziarah di antaranya:

Pengunjung/Peziarah Diwajibkan:

• Berperilaku sopan dan santun.

• Berpakaian rapi dan sopan.

• Mengenakan pakaian adat untuk memasuki area tertentu.

• Menjaga keamanan barang pribadi.

• Menjaga kenyamanan dan kekhusukan pengunjung lain.

Pengunjung/Peziarah Dilarang:

• Membawa atau membunyikan alat musik.

• Mengenakan alas kaki di area tertentu.

• Mengoperasikan alat komunikasi.

• Membuat kegaduhan.

• Berjualan di dalam benteng makam.

• Mencorat-coret atau merusak bangunan.

• Mengganggu kepentingan umum

(Rinda Martisa Fiorentina)

Sumber: jogjacagar.jogjaprov.go.id dan makamimogiri.bantulkab.go.id

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Makam Imogiri #Imogiri Bantul #wisata jogja #Wisata Bantul #Makam Raja