Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keindahan Candi Abang, Warisan Sejarah yang Tersembunyi di Yogyakarta

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 23 Juli 2024 | 18:01 WIB
Pesona Candi Abang, bak rumah Teletubies menyimpan warisan sejarah di Yogyakarta.
Pesona Candi Abang, bak rumah Teletubies menyimpan warisan sejarah di Yogyakarta.

RADAR JOGJA - Candi Abang adalah salah satu situs bersejarah yang terletak di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Abang menawarkan pesona dan keunikan tersendiri yang menarik untuk dieksplorasi.

Terbuat dari batu bata merah, candi ini mendapatkan namanya dari nama tersebut, dimana “Abang” dalam bahasa Jawa berarti merah.

Candi Abang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno, diperkirakan sekitar abad ke-9 atau ke-10 Masehi.

Menurut para ahli, candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan atau upacara keagamaan pada masa itu.

Situs ini mencerminkan gaya arsitektur Hindu-Budha yang berkembang pesat di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada periode tersebut.

Pada masa itu, tempat yang tinggi dipercaya sebagai tempat yang suci (tempat tinggalnya para dewa-dewi).

Salah satu yang membedakan Candi Abang dan candi-candi lain di Jawa adalah penggunaan batu bata merah sebagai bahan utama pembangunannya.

Berbeda dengan kebanyakan candi yang dibangun dengan batu andesit, penggunaan batu bata merah membuat Candi Abang unik.

Sayangnya, karena bahan yang digunakan mudah terkikis oleh waktu dan cuaca, struktur asli candi ini tidak sepenuhnya utuh dan kini lebih menyerupai bukit kecil yang tertutup rumput hijau.

Sehingga candi ini kerap disebut bukit teletubbies, lantaran bentuknya yang menyerupai bukit dalam serial kartun tersebut.

Bentuk Candi Abang menyerupai piramida kecil dengan sumur di bagian tengahnya, dan struktur batu batanya masih dapat ditemukan di beberapa bagian.

Situs ini mungkin tidak memiliki ornamen atau relief yang rumit seperti candi-candi besar lainnya, tetapi kesederhanaan dan keunikannya memberikan daya tarik tersendiri.

Penggunaan batu bata merah juga memberikan tampilan yang berbeda, terutama saat matahari terbenam.

Candi Abang terletak sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, membuatnya cukup mudah dijangkau oleh para wisatawan.

Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum menuju ke lokasi ini.

Setelah tiba di Desa Jogotirto, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor ke lokasi candi.

Selain menyimpan sejarah kawasan candi, daerah perbukitan ini juga menyimpan situs sejarah lainnya.

Salah satu contohnya adalah Gua Jepang yang terletak di bagian utara perbukitan dari arah timur candi.

Gua ini memiliki empat mulut gua dengan ukuran yang bervariasi.

Diperkirakan, gua ini dulu digunakan sebagai gudang amunisi oleh tentara jepang.

Ada juga Gua Sentono yang berkaitan dengan penemuan Candi Abang.

Terdapat tiga mulut gua yang menyimpan peninggalan sejarah seperti relief, lingga yoni, dan tempat pemujaan masyarakat zaman dahulu.

Anda dapat mengunjungi Candi Abang setiap hari dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB.

Baca Juga: Manchester United Dapat Kehilangan Bruno Fernandes dan Jadon Sancho Dalam Transfer Bertajuk Tukar Guling dengan PSG

Meski demikian, waktu paling ideal untuk berkunjung adalah saat pagi atau sore menjelang matahari terbenam.

Jika Anda ingin menikmati pemandangan bukit yang hijau dan indah, sebaiknya datang saat musim hujan.

Pasalnya, pada saat musim hujan rumput tumbuh subur dan tampak sangat indah.

Hanya saja Anda perlu menyiapkan payung atau jas hujan untuk mengantisipasi hujan yang turun. (Hasna Rafidah)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#candi #warisan #Yogyakarta #Sleman #sejarah #kerajaan mataram kuno #Tersembunyi #keindahan #berbah #hindu-buddha #Candi Abang