Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Susah Payah Masyarakat Desa Tambakmulya Konservasi Penyu, Temukan 1.909 Telur, Berhasil Tetaskan 779

Muhammad Hafied • Minggu, 5 Mei 2024 | 16:40 WIB
Konservasi penyu Kembar Terpadu di Desa Tambakmulya, Kecamatan Puring terbuka untuk umum. Tempat konservasi ini dijadikan wahana edukasi tentang pelestarian penyu. (
Konservasi penyu Kembar Terpadu di Desa Tambakmulya, Kecamatan Puring terbuka untuk umum. Tempat konservasi ini dijadikan wahana edukasi tentang pelestarian penyu. (

RADAR JOGJA - Di era awal 2000-an penyu jadi barang buruan masyarakat Desa Tambakmulya, Kecamatan Puring.

Daging dan telur dari hewan ini dicari untuk kebutuhan konsumsi. Tapi cerita eksploitasi itu sekarang hilang, sejak terbentuk kelompok konservasi penyu.

Bagi masyarakat Desa Tambakmulya, penyu adalah aset alam. Mereka tak sampai hati untuk berburu bahkan mengkonsumsi penyu.

Kesadaran ini muncul berangkat dari sebuah keresahan. Di mana populasi penyu justru semakin berkurang dari adanya aktivitas perburuan.

Dari keresahan itu, segelintir masyarakat kemudian nekat mendirikan tempat konservasi secara swadaya. Lokasinya berada di tepi Pantai Kembar Terpadu. Atau berjarak sekitar tiga kilometer dari Jalan Lingkar Selata-Selatan (JJLS).

"Kami lihat banyak penyu diburu. Ada yang mati karena makan plastik. Akhirnya sepakat buat konservasi," jelas Ketua Kelompok Konservasi Penyu Kembar Terpadu Muji Arisno, Jumat (3/5).

Muji bercerita, awalnya dia hampir putus asa berbuat untuk pelestarian penyu. Namun, dukungan dari rekan yang memiliki pemahaman sama membuat dia kembali bersemangat.

Secara perlahan masyarakat diberi pemahaman tentang pentingnya melestarikan habitat penyu. Hingga akhirnya masyarakat kini peduli dengan keberadaan penyu.

"Alam akan menjaga kita, kalau kita menjaganya. Mindset itu yang digaungkan. Sekarang masyarakat kalau lihat penyu langsung dilaporkan," jelas Muji.

Setiap tahun, lanjut Muji, Konservasi Penyu Kembar Terpadu kini sudah berhasil menetaskan ratusan telur penyu. Kondisi ini tak terlepas dari kepedulian masyarakat menyangkut pelestarian penyu.

Dia menyebut, ada empat jenis penyu yang rutin mendarat di Pantai Kembar Terpadu untuk bertelur. Antara lain Penyu Lekang, Tempayan, Hijau dan Sisik.

"Jangka waktu dari telur sampai menetas berkisar 45 hari. Setelah itu pasti kami rilis (lepas liar). Tidak ada istilah booking untuk acara rilis," terangnya.

Pihaknya mencatat, selama 2023 ditemukan 1.909 telur di sepanjang Pantai Kembar Terpadu. Dengan tingkat keberhasilan penetasan 779 telur dan berhasil dilepas liar sebanyak 733 ekor penyu.

Dari penyu tersebut sebagian ditangkar untuk kebutuhan edukasi dan penelitian masyarakat. "Sebenarnya proses penetasan yang bagus itu alamiah. Tidak tersentuh tangan manusia. Tapi kalau dibiarkan nanti diburu," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tambakmulya Basuki bersyukur, sejak berdirinya tempat konservasi tidak ada lagi aktivitas perburuan penyu.

Pihaknya berkomitmen untuk terus memberikan dukungan terhadap eksistensi konservasi penyu di Pantai Kembar Terpadu.

"Pantai kami punya keistimewaan. Jadi sarang bertelur penyu. Potensi ini yang perlu dikembangkan," ucapnya.

Dia juga mengapresiasi peran kelompok masyarakat yang begitu peduli terhadap keberadaan penyu.

Berbekal dari nilai gotong-royong ini penyu di Desa Tambakmulya tetap lestari. "Ada penyu di pantai itu dari nenek moyang. Tapi dulu memang buat dijual. Sekarang mau tangkap aja takut," jelasnya. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#kebumen #konservasi penyu #telur penyu #desa #eksploitasi