Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Tempat Pendaratan dan Bertelur, Desa Jogosimo Punya Ikon Penyu

Heru Pratomo • Minggu, 7 April 2024 | 18:00 WIB
HASIL KONSERVASI : Pelepasliaran penyu jenis lekang di Pantai Kaliratu, Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong.
HASIL KONSERVASI : Pelepasliaran penyu jenis lekang di Pantai Kaliratu, Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong.

 

RADAR JOGJA - Pesisir selatan Kebumen tidak hanya menyuguhkan keindahan panorama pantai. Tapi juga memiliki keunikan sebagai tujuan pendaratan penyu bertelur. Seperti di Pantai Kaliratu di Desa Jogosimo, Klirong.


Kondisi ini memaksa masyarakat setempat membentuk kelompok konservasi penyu. Tujuannya tak lain agar keberadaan penyu tetap lestari. Masyarakat terutama kalangan pemuda menganggap penyu sebagai aset berharga.

Awalnya cuma satu dua orang yang peduli. “Kini pemuda kompak buat semacam penangkaran penyu," kata Pengurus Konservasi Penyu Kaliratu Syarif Hidayat, Jumat (5/5).


Keberadaan konservasi penyu di Desa Jogosimo dimulai pada 2018 silam. Konservasi ini dibentuk berangkat dari sebuah keresahan. Kala itu penyu sempat menjadi bahan buruan untuk dijual.

Selain penyu itu sendiri, masyarakat juga memburu telurnya karena dinilai memiliki khasiat. "Waktu itu bisa dibilang masih awam. Nelangsa pokoknya. Banyak yang sengaja berburu demi keuntungan pribadi," ungkap Syarif.


Seiring waktu masyarakat kemudian sadar tentang pentingnya keberadaan penyu. Hewan tersebut kini menjadi ikon desa. Masyarakat sekarang sudah dapat mengambil keuntungan dari berdirinya tempat konservasi. Dari penyu masyarakat mampu mengemas konservasi sebagai wisata edukasi.

 


Penyu yang dilestarikan oleh masyarakat Jogosimo adalah jenis Lekang atau dengan bahasa latin Lepidochelys Olivacea. Misi utama pembentukan konservasi penyu ini awalnya penyelamatan telur. Di mana penyu lekang memilih Pantai Kaliratu sebagai tempat persinggahan untuk bertelur.


Masyarakat secara sukarela melakukan ronda bergilir untuk mencari telur di sekitar pantai. Rutinitas ini berlangsung ketika datang musim penyu bertelur. Tepatnya pada September-November. "Dari telur kami simpan. Paling tidak 40 hari baru menetas. Setelah itu baru dilepas liar. Begitu seterusnya," kata Syarif.


Desa Jogosimo berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Kebumen. Atau paling tidak butuh waktu 30 menit untuk sampai di lokasi wisata. Pantai ini letaknya terbilang cukup strategis. Persisnya sekitar dua kilometer dari Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS). Jadi cukup mudah dikunjungi wisatawan dari arah Jogja maupun Cilacap yang memilih jalur selatan.

Baca Juga: Penyu Seberat 50 Kilogram Mati di Pasiran Pantai Sepanjang Gunungkidul


Sebenarnya, di Kebumen sendiri ada pantai lain yang menjadi favorit penyu bertelur. Yaitu di Pantai Kembar Terpadu di Desa Tambakmulya, Puring. Namun masyarakat lebih dulu kenal Pantai Kaliratu sebagai lokasi konservasi penyu. "Ibarat nandurnya tahunan. Sekarang kami tinggal panen," Munajat.

Munajat mengatakan, pengembangan konservasi penyu di wilayah tersebut dapat menjadi potensi wisata yang dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Adanya konservasi menurutnya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk mengeksplorasi pengetahuan baru.


Bahkan, kata dia, tak sedikit tokoh nasional atau pejabat setingkat menteri datang ke lokasi penangkaran ini. Di hari biasa kebanyakan masyarakat yang datang dari kalangan pelajar maupun mahasiswa. "Banyak artis yang kesini. Andi F Noya, Fadli Padi, pejabat Pertaminan juga pernah. Kami bangga karena menjadi sorotan tokoh nasional," tuturnya. (fid/pra)

Editor : Satria Pradika
#penyu #kebumen #penyu bertelur #Desa Jogosimo