Produktivitas Menurun, Cemas tanpa Ponsel Tanda Perlu Batasi Platform Digital: Ini Kata Psikolog!

Naila Nihayah • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 08:00 WIB
FOTO: Psikolog, Ine Indrawati. NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
FOTO: Psikolog, Ine Indrawati. NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA

MAGELANG - Salah satu psikolog di Kota Magelang menyoroti detoks medsos bagian dari  kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di layar ponsel merupakan tindakan yang dapat mengganggu produktivitas, pola tidur, hingga kesehatan emosional. Ketika seseorang mulai sulit lepas dari ponsel dan merasa cemas, kondisi tersebut menjadi alarm untuk mengevaluasi penggunaan medsos.

Dengan detoks medsos menjadi upaya mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan platform digital ketika mulai berdampak pada aktivitas sehari-hari. Dilakukan ketika seseorang menyadari ada sesuatu dalam dirinya. Seperti produktivitasnya bisa menurun.

"Sehingga dia merasa perlu mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan platform digital," kata Ine Indrawati, Jumat (2/10/2026).

Dia menyebut, medsos memiliki algoritma yang terus menyajikan konten sesuai minat pengguna. Konten yang menarik dan mudah diakses dapat memberikan kesenangan instan. Sehingga seseorang terdorong terus menggulir layar tanpa menyadari waktu yang dihabiskan.

Baca Juga: Jalani Tahun Ketiga Bersama PSIM, Yusaku Yamadera Masih Menanti Kesempatan Bermain di Musim Baru

Kebiasaan tersebut, kata dia, menjadi masalah ketika mengganggu pekerjaan, konsentrasi, dan waktu istirahat. Pekerjaan dapat tertunda karena perhatian mudah teralihkan. Sementara kebiasaan menggunakan ponsel hingga larut malam berisiko mengganggu pola tidur.

Ine mengatakan, ada beberapa tanda seseorang perlu membatasi penggunaan medsos. Antara lain produktivitas menurun, merasa gelisah ketika jauh dari ponsel, terus-menerus memeriksa notifikasi, serta cemas ketika unggahannya tidak mendapat tanda suka atau komentar.

Penggunaan medsos, juga dapat memicu fomo, yakni perasaan takut tertinggal dari aktivitas orang lain. Melihat unggahan teman yang bepergian atau membeli barang tertentu, misalnya, dapat memunculkan dorongan untuk ikut melakukan hal serupa.

Baca Juga: Adrian Dalmau Bicara Misi di PSIM Jogja, Ingin Buktikan Diri Bisa Beri Nilai untuk Tim

Untuk mengatasinya, detoks tidak harus dilakukan dengan meninggalkan ponsel sepenuhnya. Pengguna dapat memulai dengan membatasi waktu penggunaan, mematikan notifikasi yang tidak penting, menghapus aplikasi yang mengganggu, atau menetapkan waktu dan tempat bebas ponsel.

Durasi detoks pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari. Hal terpenting, adalah membedakan penggunaan ponsel untuk bekerja atau belajar dengan aktivitas yang sekadar mencari hiburan.

Ine juga menyoroti pentingnya peran keluarga, terutama dalam membentuk kebiasaan digital anak. Orang tua perlu memberi contoh dengan membatasi penggunaan ponsel dan menyepakati aturan bersama, seperti tidak menggunakan perangkat saat makan atau pada waktu tertentu.

Baca Juga: Gelar Internal Game, PSS Sleman Genjot Ritme Pertandingan

Anak dan remaja dinilai membutuhkan pendampingan karena belum tentu mampu mengatur penggunaan perangkat secara mandiri. Tanpa batasan dan contoh dari orang tua, anak akan lebih sulit mengendalikan kebiasaan tersebut.

Selain mengurangi waktu di depan layar, kata Ine, detoks sebaiknya diisi dengan kegiatan lain. Seperti berolahraga, menjalankan hobi, atau bertemu langsung dengan orang lain.

Dengan begitu, waktu yang sebelumnya tersita untuk medsos dapat dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih produktif. "Intinya jangan kita yang dikendalikan platform digital atau medsos, tetapi kita yang mengendalikan," tegas Ine yang bertugas di UPT PPA Kota Magelang. (aya/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
detoks medsos Produktivitas Menurun platform digital psikolog