Bertahan Sejak 2009, Kolongan Banyon Menjaga Hobi dan Kenangan Pecinta Merpati di Bantul

Jihad Rokhadi • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 10:00 WIB
TETAP DIMINATI: Keberadaan kalangan merpati masih banyak dijumpai di beberapa wilayah. Lokasi ini menjadi titik kumpul komunitas merpati untuk menguji ketangkasan dan kecerdasan burung terbang. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
TETAP DIMINATI: Keberadaan kalangan merpati masih banyak dijumpai di beberapa wilayah. Lokasi ini menjadi titik kumpul komunitas merpati untuk menguji ketangkasan dan kecerdasan burung terbang. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

BANTUL – Ada masa ketika merpati kolong di Jogjakarta belum seramai sekarang. Belum banyak lapak, belum banyak turnamen, dan para pehobi berkumpul terutama karena memiliki kegemaran yang sama.

Dari hobi dan pertemuan itulah Kolongan Lapak Limbah Banyon di Bantul tumbuh. Berdiri sejak 2009, tempat ini hingga kini masih menjadi ruang berkumpul para pecinta merpati kolong.

Bagi sebagian pehobi, merpati bukan sekadar burung peliharaan. Ada proses merawat, melatih, bertanding, hingga menjaga hubungan dengan sesama pehobi yang membuat hobi tersebut terus bertahan.

Dari Lapak Santan hingga Banyon

Perjalanan komunitas merpati kolong di Jogjakarta sudah berlangsung jauh sebelum Kolongan Banyon berdiri.

Sekitar 2006, aktivitas para pehobi mulai berkembang di kawasan Santan. Tiga tahun kemudian, pada 2009, Kolongan Lapak Limbah Banyon mulai hadir dan menjadi salah satu tempat berkumpul para pecinta merpati kolong.

Seiring waktu, aktivitas di lapak tersebut semakin berkembang. Para pehobi tidak hanya datang untuk menerbangkan dan melatih burung, tetapi juga membangun komunitas.

Baca Juga: Dari Hobi dan Kenangan Pecinta Burung Merpati, Kolongan Lapak Limbah Banyon Bertahan hingga Kini

PPMKY dan Awal Turnamen Merpati Kolong

Perkembangan hobi merpati kolong kemudian mendorong para pehobi membentuk Paguyuban Penggemar Merpati Kolong Yogyakarta (PPMKY).

Pada 2010, para pehobi membentuk PPMKY yang mulai berjalan pada 2011. Kehadiran paguyuban membuat aktivitas dan pertandingan merpati kolong semakin terorganisasi.

Jadwal pertandingan mulai disusun. Para pemain dari berbagai wilayah juga mulai berdatangan.

Banyon pun tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpul. Lapak tersebut berkembang menjadi bagian dari ekosistem komunitas merpati kolong di Jogjakarta.

Dari Hobi Menjadi Turnamen Ribuan Peserta

Perkembangan merpati kolong membuat skala pertandingan semakin besar.

Dalam sejumlah turnamen, jumlah peserta bisa mencapai sekitar 700 hingga 1.200 orang. Pesertanya tidak hanya berasal dari Bantul, tetapi juga dari berbagai daerah.

Hadiah pertandingan pun berkembang. Dalam kompetisi tertentu, hadiah yang diperebutkan bisa berupa sepeda motor hingga mobil.

Namun, di balik besarnya hadiah dan ramainya pertandingan, aktivitas ini tetap berawal dari hobi.

Para pemain datang membawa burung yang telah dirawat dan dilatih. Mereka bertemu dengan sesama pehobi, bertukar pengalaman, sekaligus menguji kemampuan burung masing-masing.

Baca Juga: Keselamatan Merpati Nomor Satu, Tempat Pendaratan Kini Wajib Ada Matras dan Tiang Dibalut Busa

Seperti Apa Pertandingan Merpati Kolong?

Merpati kolong memiliki karakter pertandingan yang berbeda dengan lomba burung pada umumnya.

Burung diterbangkan dari jarak tertentu untuk kemudian kembali menuju titik yang telah ditentukan. Salah satu tantangannya adalah melewati kolong dengan ketinggian sekitar 8–9 meter.

Jarak lintasan dapat mencapai sekitar 1 kilometer.

Waktu pertandingan juga menjadi bagian penting. Dalam aturan tertentu, burung harus menyelesaikan lintasan dalam batas waktu yang telah ditentukan, dengan waktu maksimal sekitar tiga menit.

Karena itu, kecepatan bukan satu-satunya faktor. Kemampuan burung, latihan, ketepatan arah, dan strategi pemain turut menentukan hasil pertandingan.

Kejujuran Menjadi Pegangan di Arena

Besarnya jumlah peserta dan hadiah membuat pertandingan membutuhkan aturan yang jelas.

Para pemain tidak hanya dituntut memahami karakter burung, tetapi juga menjaga kejujuran dan integritas selama pertandingan.

Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam komunitas merpati kolong. Persaingan berlangsung di arena, tetapi hubungan antarpemain tetap menjadi bagian dari kehidupan komunitas.

Baca Juga: Terbuat dari Tiang Bambu, Kolongan Sering Tertabrak Merpati

Teknologi Ikut Mengawasi Pertandingan

Seiring berkembangnya pertandingan, teknologi juga mulai digunakan untuk membantu pengawasan.

Kamera CCTV digunakan untuk memantau jalannya pertandingan. Teknologi tersebut membantu wasit dan panitia ketika terjadi perbedaan pendapat atau protes dari peserta.

Dengan pengawasan yang semakin baik, pertandingan diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan memberikan kepastian bagi para pemain.

Banyon dan Hobi yang Terus Bertahan

Hampir dua dekade setelah berdiri, Kolongan Lapak Limbah Banyon masih menjadi bagian dari perjalanan komunitas merpati kolong di Jogjakarta.

Perubahannya terlihat jelas. Dari hobi yang dulu dilakukan oleh kelompok kecil, kini berkembang menjadi pertandingan yang mampu menarik ratusan hingga ribuan peserta.

Namun, satu hal tetap sama: kegemaran terhadap merpati dan pertemuan antarsesama pehobi.

Bagi mereka, merpati kolong bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pertandingan.

Ada kenangan, persahabatan, persaingan, dan sebuah hobi yang terus dirawat agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Editor : Jihad Rokhadi
Sumber : Radar Jogja
Kolongan Banyon Komunitas Merpati hobi Bantul Merpati Kolong