RADAR JOGJA - Ada masa ketika merpati kolong di Jogjakarta belum seramai sekarang. Belum banyak lapak, belum ada jadwal turnamen yang tersusun rapi, dan para pehobi berkumpul lebih banyak karena kesamaan kegemaran. Dari masa itulah Kolongan Lapak Limbah Banyon di Bantul bermula.
Lapak Banyon berdiri pada 2009. Udi Mulyanto Potlot menjadi salah satu orang yang ikut merintisnya bersama sejumlah pehobi merpati kolong. Saat itu, membangun sebuah lapak bukan semata soal menyelenggarakan pertandingan. Ada pertemanan, kegemaran, sekaligus keinginan untuk memiliki tempat berkumpul bersama.
Baca Juga: Dazzling Dance Crew SMAN 1 Banguntapan Tampil Nyentrik di DBL Jogja Kritisi FOMO Naik Gunung
Bagi Udi, perjalanan Banyon tidak bisa dilepaskan dari perkembangan merpati kolong di Jogjakarta. Sebelum Banyon berdiri, aktivitas merpati kolong mulai berkembang dari lapak di Santan, Bantul, sekitar 2006. Dari sana, kegemaran tersebut perlahan menyebar ke berbagai tempat. Para pehobi mulai memiliki lapak masing-masing dan kegiatan merpati kolong semakin dikenal.
Tiga tahun kemudian, Banyon ikut tumbuh di tengah perkembangan tersebut. "Awalnya memang dari hobi. Dari situ kemudian berkembang dan akhirnya menjadi kegiatan bersama," ujar Udi, pemain sekaligus salah satu pendiri Kolongan Lapak Limbah Banyon.
Baca Juga: Menikmati Birunya Laut di Sibolga Marina Poncan, Destinasi Bahari di Ujung Barat Sumut
Masa-masa awal itu menjadi bagian yang masih diingat Udi. Ketika jumlah lapak belum sebanyak sekarang, pertemuan para pehobi terasa lebih sederhana. Mereka datang membawa burung, bertemu sesama pemain, sekaligus berbagi cerita tentang merpati yang dimiliki.
Dari aktivitas yang awalnya berjalan secara sederhana, perlahan muncul kebutuhan untuk membuat kegiatan lebih teratur.Pada 2010, para pehobi kemudian membentuk Paguyuban Penggemar Merpati Kolong Yogyakarta (PPMKY), yang mulai berjalan pada 2011. Kehadiran paguyuban tersebut ikut mengubah pola penyelenggaraan perlombaan.
Baca Juga: Warung Indo dan Kesegaran Aqua dalam Penampilan Dance SMA 1 Kalasan
"Terus akhirnya kita membentuk jadwal rutinitas turnamen. Per tiga bulan sekali motoran," kata Udi.
Seiring waktu, lapak-lapak yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai terhubung melalui agenda bersama. Setiap lapak memperoleh giliran menjadi tuan rumah perlombaan. Sistem itu membuat kegiatan tidak terpusat di satu tempat.
Banyon pun menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Kini, pengelolaan lapak sudah jauh lebih tertata. Ada ketua, sekretaris, bendahara, hingga humas. Para pehobi bergotong royong mengurus kegiatan lomba, latihan, perawatan lapak, hingga kebutuhan tempat.
Namun, semangat kebersamaan dari masa awal tetap dipertahankan. Udi mengatakan, orang-orang yang terlibat dalam kepengurusan aktif di Banyon mencapai puluhan. Sementara pemain yang datang tidak hanya berasal dari sekitar Bantul. Justru banyak pehobi datang dari luar wilayah.
"Di Banyon paling cuma satu dua tiga orang. Kebanyakan dari luar," ujarnya.
Bagi para pehobi, perjalanan menuju lapak bukan sekadar perjalanan menuju arena pertandingan. Lapak menjadi tempat bertemu kawan lama dan kembali mengingat masa ketika merpati kolong belum sebesar sekarang.
Perkembangan itu terlihat dari jumlah peserta turnamen yang semakin besar. Dalam sejumlah agenda PPMKY, peserta dapat mencapai 700 hingga 1.200 orang atau lebih, bergantung pada jenis hadiah dan skala turnamen.
"Misal kalau hadiah motor NMAX, itu sekitar 700, 800, sampai 900. Tapi kalau mobil, bisa 1.000, 1.200-an," ungkap Udi.
Angka tersebut merupakan jumlah peserta turnamen PPMKY secara umum, bukan jumlah anggota atau peserta khusus Kolongan Banyon.
Besarnya jumlah peserta berjalan beriringan dengan perubahan aturan pertandingan. Jika dulu ketinggian kolongan bisa mencapai 11 hingga 13 meter, kini standar berada di kisaran 8 hingga 9 meter.
Aturan pertandingan juga semakin terukur. Dua burung beradu untuk mencapai titik akhir di bagian bawah kolong. Burung harus mencapai matras yang dilengkapi busa untuk mengurangi risiko cedera.
Waktu pertandingan dibatasi maksimal tiga menit. Burung yang tidak berhasil mencapai kolong dalam batas waktu tersebut dinyatakan kalah. Jarak penerbangan sekitar satu kilometer. Burung yang sudah terlatih bahkan dapat mencapai kolong dalam waktu kurang dari satu menit, sedangkan sekitar 1,5 menit menjadi waktu yang umum.
Namun, bagi Udi, sebesar apa pun perkembangan perlombaan, ada satu hal yang tidak boleh hilang adalah kejujuran. "Kejujuran, integritas kayak gitu nomor satu di merpati kolong," tegasnya.
Pemain tidak diperbolehkan melakukan gerakan yang dapat merugikan lawan. Pelanggaran saat proses geber maupun gerakan tertentu dapat berujung pada diskualifikasi. "Kalau kita mencurangi atau merugikan lawan dengan gerakan, itu sudah kena diskualifikasi," jelasnya.
Untuk menjaga pertandingan tetap adil, perlombaan juga dilengkapi kamera CCTV. Rekaman tersebut dapat digunakan untuk memeriksa keberatan atau protes peserta terhadap keputusan wasit. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita