Keselamatan Merpati Nomor Satu, Tempat Pendaratan Kini Wajib Ada Matras dan Tiang Dibalut Busa

Rizky Wahyu • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 07:00 WIB
MILIKI CIRI KHAS: Kalangan berbentuk kubus sederhana yang tiap sudutnya dipasang tiang bambu dengan warna cerah, seperti merah putih. Di bagian atas, antara tiang biasanya dihubungkan dengan tali penuh ornamen agar gampang ditemukan oleh merpati. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
MILIKI CIRI KHAS: Kalangan berbentuk kubus sederhana yang tiap sudutnya dipasang tiang bambu dengan warna cerah, seperti merah putih. Di bagian atas, antara tiang biasanya dihubungkan dengan tali penuh ornamen agar gampang ditemukan oleh merpati. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Keberadaan arena atau kalangan/kolongan merpati bukan sekadar tempat berkumpulnya para pecinta burung sekeliling kampung. Bagi Persatuan Penggemar Merpati Kolong Yogyakarta (PPMKY), ajang balap merpati kolong telah berkembang menjadi cabang olahraga kompetitif yang menjanjikan. Sekaligus momentum mendongkrak nilai ekonomi sang unggas.

 

 ​Anggota PPMKY Hartana menjelaskan, kolong merpati ini hadir untuk memfasilitasi hobi masyarakat. Ini supaya lebih terarah dan bernilai tambah. "Merpati kolong ini adalah penyalur hobi pecinta merpati untuk dijadikan olahraga kompetitif. Salah satu tujuannya ya untuk mengangkat harga burung merpati itu sendiri. Tapi yang paling utama tetap menyalurkan hobi," ucapnya kepada Radar Jogja, Jumat (25/9). 

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Ajak Nikmati Keseruan Malam Hari Bareng Honda Genio

​Pria yang rutin melintasi berbagai ajang perlombaan merpati hingga luar daerah ini menjelaskan, keberadaan tiang kolongan (arena berbentuk persegi tinggi) memiliki peran vital. Empat tiang itu menjadi tolok ukur utama untuk menguji ketangkasan dan kecerdasan burung terbang.

Akan tetapi, menurutnya, hal itu tetap membutuhkan waktu dan proses latihan yang tidak sebentar. Itu agar seekor merpati paham arah terbang hingga hinggap tepat di tempat pendaratan (landing).

Baca Juga: 193 Karya dari 131 Seniman Disabilitas Dipamerkan di Suluh Sumurup 2026

"Kotakan kolongan itu sangat berfungsi untuk menentukan kecerdasan dan ketangkasan burung. Memang butuh waktu cukup lama melatihnya agar burung tahu landing-nya di mana dan pasti masuk ke dalam kolong. Itu penentu utama apakah burung tersebut layak diperlombakan atau tidak," jelas pria yang akrab disapa Tono ini.

Ia menjelaskan, untuk regulasi perlombaan, aturan ketat tetap diberlakukan. Burung merpati yang gagal menembus ruang kotak kolongan akan langsung dijatuhkan sanksi diskualifikasi (disk). 

Begitu pula jika burung berhasil masuk kolong namun gagal mendarat di atas matras atau busa yang disediakan, maka poin tidak akan dihitung.

Baca Juga: Pesona Pulau Kalimantung, Laut Biru dan Pasir Putih di Balik Keindahan Tapanuli Tengah

​Menariknya, soal ketinggian terbang, PPMKY tidak memberikan batasan khusus. Burung dengan karakter terbang tinggi maupun rendah tetap memiliki peluang sama untuk menang.

 

"Kalau masalah tinggi itu bebas, tidak terukur. Mau terbang pendek tapi kencang, bisa melompat masuk kolong dan landing di busa, itu tidak masalah. Yang penting syarat utamanya masuk kolong dulu," tuturnya. 

​Seiring berkembangnya hobi ini di DIY dan sekitarnya, lanjut Tono, aspek keselamatan satwa kini menjadi prioritas utama para penggemar merpati. Jika dahulu arena dibuat seadanya, kini kalangan merpati modern dilengkapi standar keamanan tinggi.

Baca Juga: Warung Indo dan Kesegaran Aqua dalam Penampilan Dance SMA 1 Kalasan

​Tono menyebut, matras busa tebal wajib dibentangkan di titik pendaratan. Tak hanya itu, tiang-tiang penyangga kolongan pun kini wajib dibalut busa pelindung guna mengantisipasi benturan keras saat burung menukik tajam dengan kecepatan tinggi.

"Sekarang keselamatan merpati nomor satu. Busa di bawah harus tebal biar empuk. Tiang-tiangnya pun dibalut busa supaya kalau burung nabrak tidak cedera," cetusnya. 

​Selain faktor keamanan, Tono mengatakan komunitas merpati kolong se-Indonesia juga menerapkan keseragaman warna tiang, yakni merah-putih. Warna ini menjadi identitas visual yang sangat krusial bagi navigasi sang burung.

"Warna tiang wajib merah-putih dan seragam di mana-mana, dari Jogja sampai wilayah Pantura. Kalau warnanya beda-beda di setiap lapak, burung bisa bingung dan lupa. Merah-putih ini jadi penanda bagi merpati bahwa di situlah tempat mereka harus masuk dan mendarat," tandasnya. (ayu/laz)

 

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
kolongan Penggemar Merpati Kolong Yogyakarta (PPMKY) Kalangan burung merpati