3D View Master, Teknologi Lawas yang Disebut Cikal Bakal Virtual Reality

Aris Romadhon • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:45 WIB
Dosen Program Studi Fotografi, FSMR ISI Jogjakarta, Achmad Oddy Widyantoro. Aris Romadhon/Radar Jogja
Dosen Program Studi Fotografi, FSMR ISI Jogjakarta, Achmad Oddy Widyantoro. Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - Jauh sebelum teknologi virtual reality (VR) yang memungkinkan manusia masuk dan berinteraksi dengan dunia digital, ada sebuah perangkat sederhana yang menawarkan sensasi serupa, namanya 3D View-Master.
Berbentuk seperti teropong kecil, di dalamnya terdapat piringan berisi rangkaian gambar yang dapat diputar menggunakan tuas, sehingga gambar yang dilihat pengguna dapat berganti satu per satu.
Teknologinya memang jauh dari perangkat VR saat ini. Namun, menurut Dosen Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Achmad Oddy Widyantoro, konsep dasar 3D View-Master memiliki kemiripan dengan teknologi VR.
"Kalau saya mengamati dari segi bentuk dan penggunaannya, kami merasa ini menjadi cikal bakal dari alat-alat kekinian, alat-alat visual imaji kekinian seperti virtual reality," ujar Achmad.

Baca Juga: KAI Buka Rekrutmen 2026, lulusan SMA hingga S1 Bisa Daftar

Mengingat penggunaannya, 3D View-Master kuncinya terletak pada cara perangkat itu menyajikan gambar terhadap kedua mata. Pengguna tidak melihat gambar yang dari jauh, melainkan langsung melalui alat yang ditempelkan di depan mata layaknya menggunakan teropong.

Cara itu menciptakan sensasi kedalaman sekaligus membuat pengguna seolah-olah berada lebih dekat dengan gambar. "Sehingga kita kayak ada rasa immersive, kayak masuk ke dalam gambar itu," tambahnya.

Konsep tersebut kemudian berkembang ke dalam teknologi VR. Jika 3D View-Master hanya menyajikan gambar yang telah disiapkan dan diganti satu per satu, VR mampu menghadirkan lingkungan visual yang berkesinambungan. Pengguna bukan hanya melihat, tetapi juga dapat berinteraksi dengan lingkungan virtual.

"Kita bisa masuk ke dalam itu sambil berinteraksi dengan dunia di dalam tersebut," tambahnya. Dengan kata lain, perkembangan teknologi itu bergerak dari sekadar melihat gambar menjadi mengalami sebuah ruang.

Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sembilan Penerbangan Dari YIA ke Soekarno Hatta Dibatalkan

Ahmad menjelaskan kesan tiga dimensi pada 3D View-Master dapat muncul melalui cara gambar disajikan. Secara teknis, gambar tidak sekadar ditempatkan sebagai satu lapisan, tetapi dimungkinkan memiliki beberapa lapisan atau pada bahan cetak yang digunakan sehingga menciptakan kesan 3D dan memunculkan persepsi kedalaman bagi pemakainya.

Menurutnya, penyajian itu membuat gambar terasa memiliki ruang. Efek visual itu kemudian memperkuat pengalaman imersif yang menjadi salah satu karakter utama teknologi visual modern.

Namun, kemampuan 3D View-Master tetap memiliki batas. Perangkat ini tidak merekam gambar secara langsung. Seluruh imaji yang ditampilkan sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketika digunakan, pengguna hanya menikmati gambar yang tersedia.

Karena itu, Ahmad membedakan 3D View-Master dengan kamera. "Kalau kamera itu condongnya adalah dia merekam. Sementara ini kan kita hanya melihat," ujarnya.

Baca Juga: Tukang Pijat di Kalurahan Sendangsari Kulon Progo Diduga Sodomi Tiga Bocah

Dalam perspektif media rekam, 3D View-Master justru dapat dilihat sebagai bagian dari luaran media rekam. Proses media rekam terjadi ketika gambar diproduksi dan dipersiapkan sebelum dimasukkan ke perangkat. Setelah itu, 3D View-Master berfungsi sebagai media penyaji.

Keterbatasan ini membuat penggunaan 3D View-Master pada akhirnya lebih banyak bergeser ke ranah hiburan. Teknologi itu tidak mampu menghadirkan gambar bergerak secara berkelanjutan maupun interaksi dengan lingkungan seperti yang ditawarkan teknologi digital sekarang.

"Dia tetap satu imaji tunggal yang diolah sedemikian rupa. Jadi dia tidak bisa berkelanjutan, gambar geraknya yang nyambung dari frame per frame kan enggak," kata Achmad.

Perubahan fungsi itu menggambarkan pola umum evolusi teknologi. Perangkat lama yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan utama manusia kemudian digantikan teknologi baru yang menawarkan kemampuan lebih luas.

Baca Juga: Prediksi Liga Inggris Arsenal vs Chelsea, H2h, Team News, Susunan Pemain dan Pemenangnya

Menurutnya, secara konsep 3D View-Master hingga teknologi VR memiliki kemiripan. Dari perangkat yang hanya memungkinkan manusia melihat gambar tiga dimensi, teknologi visual kemudian berkembang menjadi perangkat yang mampu membawa manusia masuk ke ruang digital.

Evolusi tersebut juga mulai terlihat dalam dunia akademik. Di Fakultas Seni Media Rekam ISI Jogjakarta, teknologi VR telah menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan karya.

Ahmad mengatakan sejumlah dosen dan mahasiswa, khususnya di Program Studi Produksi Film Televisi, meneliti pemanfaatan VR sebagai medium berkarya.

Dalam teknologi itu, pengguna bahkan dapat masuk ke ruang virtual dan membuat karya secara langsung. Mereka bisa menggambar, melukis, memilih kuas virtual hingga warna. “Kemudian menghasilkan karya akhir yang dapat diekspor menjadi sebuah imaji,” tambahnya.

Baca Juga: Prediksi Everton vs Manchester United Premier League, H2h, Team News dan Susunan Pemain

Perubahan itu menunjukkan perbedaan paling besar antara 3D View-Master dan VR. Jika 3D View-Master menempatkan manusia sebagai penonton, VR mulai menempatkan manusia sebagai pengguna sekaligus pencipta di dalam ruang virtual.

Karena itu, menyebut 3D View-Master sebagai "cikal bakal" VR tampaknya bisa saja dibenarkan. Keduanya memang dipisahkan oleh pergeseran kebutuhan teknologi, tetapi memiliki satu gagasan yang sama yaitu menghadirkan imaji sedekat mungkin dengan pengalaman melihat secara langsung bagi penikmatnya.

Dari sebuah perangkat sederhana yang hanya melihat gambar tiga dimensi, gagasan itu akhirnya berkembang menjadi teknologi yang memungkinkan manusia masuk, berinteraksi, bahkan berkarya di dalam sebuah dunia virtual. (cr2/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
3D View Master Teknologi Lawas virtual reality tiga dimensi