Barahmus DIY: Keberadaan Edukator Museum Penting, Gunakan Bahasa Sederhana dan Mudah Dipahami Anak

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:13 WIB
Dokumen pribadi narasumber. Ketua Barahmus DIJ Dr. Ki Hajar Pamadhi
Dokumen pribadi narasumber. Ketua Barahmus DIJ Dr. Ki Hajar Pamadhi

JOGJA - Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY memandang museum tak sebatas tempat untuk melihat dan menyimpang benda-benda bersejarah. Terlebih adanya fenomena kunjungan keluarga, keberadaan edukator menjadi salah satu faktor penting agar museum sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak.

Edukator museum harus mampu menyesuaikan cara penyampaian dengan karakter pengunjung.

Ketua Barahmus DIY Dr Ki Hajar Pamadhi mengatakan, pengalaman anak ketika berkunjung ke museum tidak bisa disamakan dengan pengalaman pengunjung dewasa. Sehingga edukator perlu menyesuaikan penyampaiannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

"Ketika anak-anak datang, edukator perlu kayak guru TK, diajari begini-begini dan akhirnya mereka bisa memahami itu apa. Utamanya melihat koleksi bukan sebagai benda yang dilihat, tetapi direkonstruksi ide-idenya yang ada di dalam koleksi," katanya, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Pemkot Jogja Siapkan Lahan SG Seluas 1.000 Meter Persegi untuk KKMP di Kelurahan Giwangan

Ki Hajar menjelaskan, dengan pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya mendapatkan informasi mengenai sebuah benda, tetapi juga diajak memahami konteks dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar museum tidak menciptakan jarak dengan anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk memahami koleksi sesuai dengan tingkat perkembangan dan cara berpikir mereka.

Dengan demikian, museum tidak sekadar menjadi tempat anak melihat benda-benda yang dipajang di balik kaca, tetapi menjadi ruang untuk bertanya, memahami, dan menemukan pengetahuan baru.

Baca Juga: DPRD DIY Soroti Akurasi Data Desil 9-10 soal Rencana Pembatasan Pembelian BBM Subsidi

Ki Hajar menilai arah pengembangan tersebut sejalan dengan upaya menjadikan Jogja sebagai City of Museum. Saat ini, Barahmus DIYmencatat terdapat 48 museum resmi yang menjadi anggotanya. Jumlah tersebut, berpotensi bertambah menjadi 55 museum dengan adanya tujuh museum yang tengah mendaftar.

"Kami sedang membuat program yang namanya Jogja City of Museum," ujarnya.

Selain itu, Barahmus DIY juga mengusulkan konsep The Living Museum, yang melihat kehidupan dan aktivitas masyarakat Jogja sebagai bagian dari pengalaman museum itu sendiri.

Baca Juga: Ada The Rain dan Jikustik, Suadesa Festival 2026 Meriahkan Tiyasan Sleman

Bagi Barahmus, pengembangan ekosistem museum tersebut pada akhirnya bukan hanya soal meningkatkan jumlah kunjungan. Museum diharapkan mampu menjadi ruang yang mempertemukan wisata, pendidikan, kebudayaan, teknologi, dan kehidupan masyarakat.

"Jadi tidak hanya sekadar museum sebagai benda yang dilihat, tapi direkonstruksi menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Ini yang penting buat kita," tegas Ki Hajar. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Barahmus DIY museum edukator