Guru Pedalangan SMKI Jogjakarta Tri Nurwanto mengatakan, Ki Hadi Sugito merupakan salah satu figur ikonik dalam dunia pewayangan. Khususnya di wilayah Jogjakarta bagian barat. Bahkan di dunia pedalangan Ki Hadi Sugito juga memiliki julukan sebagai dalang cucut.
Predikat itu merujuk pada kemampuan istimewa seorang dalang dalam menyuarakan karakter wayang secara presisi dan berbeda-beda. Menyesuaikan dengan wanda atau raut muka wayang yang dimainkan.
"Ada beberapa tokoh yang sama-sama berkarakter suara kecil, seperti Durna, Karna, dan Setyaki. Namun Ki Hadi Sugito tetap bisa memberikan warna vokal yang berbeda dan khas untuk masing-masing tokoh," ujar Tri kepada Radar Jogja, Jumat (31/7).
Baca Juga: Ratusan Bikers Padati Yogyakarta dalam Gelaran Honda Vario Evo 160 Night Ride
Selain keahlian vokal, gaya penyampaian Ki Hadi Sugito dinilai sangat komunikatif, humoris, namun tetap mengakar kuat pada keindahan sastra dan penggunaan tembung kawi. Pendekatan tersebut membuat pertunjukan dalang kelahiran Kulon Progo itu mampu merangkul berbagai kalangan. Mulai dari sesepuh hingga generasi muda.
Tri yang juga merupakan abdi dalem Keraton Jogja dengan nama Mas Panewu Purba Wicara ini mengungkapkan, salah satu warisan penting dari garapan Ki Hadi Sugito adalah keahliannya dalam membawakan suluk penokohan yang bersifat situasional.
Terkait relevansinya dalam dunia pendidikan seni pertunjukan, Tri menyebut nilai-nilai dan struktur garapan khas Ki Hadi Sugito sering diadaptasi ke dalam pembelajaran bagi para siswa jurusan pedalangan. Meskipun tidak secara formal dalam kurikulum.
"Banyak siswa yang secara alamiah membawa gaya vokal, cengkok, dan penokohan khas Pak Gito saat ujian. Gaya beliau itu dirasa sangat enak untuk dipelajari, dilakonkan, dan diimplementasikan oleh para dalang muda," tuturnya. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita