Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Siaran Kelompencapir, Program Andalan TVRI yang Dapat Rating Tinggi

Delima Purnamasari • Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:41 WIB
Eks Pegawai TVRI Ahmad Sofyan. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Eks Pegawai TVRI Ahmad Sofyan. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)

 

KELOMPOK pembaca, pendengar, dan pemirsa (Kelompencapir) adalah program penyuluhan dan komunikasi dua arah pada masa orde baru. Acara yang disiarkan lewat berbagai media pada zamannya ini jadi wadah para petani dan nelayan. Baik untuk berdiskusi, bertukar informasi, serta mengikuti cerdas cermat seputar pertanian maupun pedesaan.

Eks pegawai TVRI Ahmad Sofyan bercerita, Kelompencapir sebenarnya diawali dari kelompok pendengar (kelompen). Mereka mendengarkan siaran seputar pedesaan lewat siaran radio. Sekitar tahun 1969 baru ada siaran pedesaan di TVRI Jogja dengan nama Modernisasi Desa. Hingga akhirnya semakin berkembang lewat media cetak koran lewat rubrik koran masuk desa dan lahirlah Kelompencapir.

Baca Juga: Kelompencapir di Masa Pemerintahann Orde Baru, Jadi Sekolah Lapangan bagi Petani

"Sebetulnya itu ide murni dari rakyat sendiri dari para pendengar radio. Sekarang masih ada komunitas-komunitas seperti itu," katanya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (20/6).

Saat itu juga dibentuk Dewan Pembina Siaran Pedesaan (DPSP) yang anggotanya lintas sektoral yang membina Kelompencapir ini. Sofyan bercerita, dalam perjalannya DPSP berubah nama menjadi Tim Pembina Siaran Pedesaan (TPSP). Dalam hal ini tidak terbatas pada pertanian, tetapi seluruh sektor yang berkaitan dengan pembangunan pedesaan, seperti transmigrasi, keluarganya berencana, hingga kesehatan.

Salah satu program siaran yang paling tren memang format kuis atau kini disebut Cerdas Cermat. Soalnya berkaitan dengan materi yang disiarkan oleh media televisi, radio, hingga koran. Kuis ini diselenggarakan secara berjenjang dari kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Sofyan bercerita biasanya yang disiarkan ketika sudah sampai jenjang provinsi dan nasional. "Pembuat soalnya dari TPSP itu. Jadi masing-masing lembaga televisi, radio, media cetak memberi bahannya ke tim pembina. Saya juga sering buat soalnya," tambahnya.

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Mengancam Pertanian DIY, Data Jadi Dasar Pengambilan Kebijakan: Ini Kata Sekprov DIY

Program kuis semacam ini di TVRI terus berkembang. Diawali dari program Lantip Trengginas di TVRI Jogja yang menggunakan bahasa Jawa, sementara untuk nasional berkembang dengan nama Asah Terampil. Pesertanya mereka yang sudah senior di bidang masing-masing, seperti perkebunan dan tanaman pangan. Tak jarang ada juga anak muda yang turut serta.

Saat membuat program semacam ini, proses pengambilan gambar tidak terbatas di studio saja, tetapi langsung di lapangan. Baik itu di sawah hingga kebun. Lantaran pertanyaan tidak sekadar teori, tetapi juga praktik seperti menyambung pucuk tanaman. Hadiahnya juga berbagai macam, seperti alat semprot hingga alat penunjang pertanian. "Hadiah ini disediakan lewat kerja sama lintas sektoral tadi, lalu TVRI menyiarkan," tambahnya.

Menurutnya, rating program bertema pedesaan pada zaman itu memang cukup tinggi, seperti Lantip Trengginas, Mbangun Desa, hingga Wawasan Mitra Tani. Hal ini karena kebutuhan informasi terkait pedesaan juga luar biasa. Program siaran ini dia sebut juga didorong oleh masyarakat yang guyup rukun. Orang-orang lapangan hingga penyuluh bersama-sama ingin maju sehingga siaran semacam ini juga diterima baik oleh masyarakat.  "Tanggapan masyarakat juga bagus. Kalau zaman Orde Baru pembangunan digencarkan dari bawah. Dari pedesaan," katanya.

Baca Juga: Diskominfo DIY Kenang Kelompencapir, Program Ikonik Era Orde Baru yang Melekat di Ingatan

Sofyan sendiri tidak ingat jelas kapan program semacam ini mulai turun peminatnya. Baginya kondisi ini bisa terjadi karena tren masyarakat sudah berbeda dan ada pengaruh besar dari teknologi informasi terkini. Hanya saja pengalaman membuat seluruh program pedesaan ini baginya jadi pengalaman yang begitu berharga. 

"Saat itu senang sekali kami ini. Saya menangani itu bukan beban, malah senang, dan jadi hobi. Situasi guyup rukun dan membuat kami bergairah kerja," tandas Sofyan. (del/laz) 

Editor : Herpri Kartun
#Kelompencapir #soeharto #tvri #Petani