RADAR JOGJA - Generasi 2000-an tentu tidak asing dengan suara nada dering saat menelepon. Nada monoton itu sempat bergeser trennya menjadi potongan lagu hit dari musisi ternama. Fenomena ini dikenal sebagai Nada Sambung Pribadi (NSP) yang sempat merajai industri telekomunikasi dan musik tanah air.
Pengamat musik Kardi Laksono mengungkapkan, popularitas NSP di masa lalu bukan sekadar pengisi kekosongan atau variasi agar penelepon tidak bosan. Lebih dari itu, NSP menjadi media ekspresi emosional yang sangat personal bagi pemilik telepon.
"Dulu, NSP digunakan untuk mengekspresikan situasi batin atau kondisi psikologis seseorang. Pilihan lagunya bisa berubah-ubah, sangat tergantung suasana hati," ujar dosen Penciptaan Musik ISI Jogjakarta itu Jumat (5/6).
Baca Juga: Pemkot Jogja Bakal Tambah Stasiun Pengisian Daya Becak Listrik di Wilayahnya, Ini Yang Dilakukan
Dalam psikologi musik, suasana batin seseorang memang paling mudah termanifestasi melalui nada dan lirik. Kardi mencontohkan, ketika seseorang sedang jatuh cinta atau mengalami patah hati, mereka akan memilih potongan lagu yang mewakili perasaan itu untuk diperdengarkan kepada orang yang meneleponnya. "Jadi, ada pesan tersirat yang ingin ditunjukkan dari pemilik nomor," jelasnya.
Tren ini pada saat itu didominasi oleh kalangan muda karena mereka paling adaptif terhadap perkembangan teknologi telekomunikasi yang saat itu masih sederhana. Karakteristik ini berbeda dengan generasi tua yang cenderung menikmati musik secara konvensional, seperti menonton pertunjukan keroncong langsung.
Lagu-lagu yang laris manis dijadikan NSP kala itu didominasi oleh musik pop populer yang sedang naik daun. Seperti karya-karya dari Naff hingga Yovie & Nuno. Karakter musik dari grup band dan penyanyi solo era 2000-an awal ini dianggap berhasil mewakili manifestasi jiwa generasi muda saat itu.
Baca Juga: Bedah Rumah di DIY Naik dari Ratusan ke Ribuan Unit, HB X: Kebutuhan Hunian Layak Masih Tinggi
Namun, tidak semua lagu bisa dipasang. Pemilik ponsel hanya bisa memilih musisi atau band yang telah menjalin kerja sama resmi dengan pihak penyedia layanan (provider). Pada masanya, sistem ini menjadi ladang bisnis baru yang menjanjikan bagi industri musik.
"Terutama yang populer pakai NSP Telkomsel waktu itu, tetapi tidak dipungkiri provider lain juga menyediakan layanan serupa," kata Kardi.
Secara teknis, NSP tidak memutar lagu secara penuh, melainkan hanya potongan audio sepanjang sekian detik selama panggilan berlangsung hingga telepon diangkat. Kehadiran NSP diakui membuat aktivitas menelepon menjadi lebih menyenangkan bagi pihak penelepon. Daripada mendengar bunyi dering konvensional yang kaku, mereka disuguhi musik populer yang familier di telinga.
Layanan ini juga tidak gratis dan berbasis langganan dengan masa aktif tertentu. Sistem transaksinya pun masih mengandalkan pesan singkat. "Dulu pemberitahuannya lewat SMS. Ada pertanyaan apakah ingin memperpanjang atau tidak, lengkap dengan nominal pulsa yang akan dipotong. Kalau setuju, tinggal balas," ungkapnya. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita