Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sirkuit Balap di Tengah Kota Tinggal Kenangan, IMI DIY Sebut Kini Sudah Tidak Mungkin  

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 17 Mei 2026 | 10:03 WIB
Sirkuit balap motor di Wonosari. Yusuf Bastiar/Radar Jogja
Sirkuit balap motor di Wonosari. Yusuf Bastiar/Radar Jogja

JOGJA - Kenangan akan deru mesin motor yang memacu adrenalin di sirkuit dadakan tengah kota, nampaknya akan tetap menjadi sejarah. Sebab, Pengda Ikatan Motor Indonesia (IMI) DIY menegaskan, menggelar ajang balap motor di jantung kota saat ini sudah tidak memungkinkan lagi.
Kepala Bidang (Kabid) Olahraga Sepeda Motor IMI DIY Arief Budhi mengatakan, karakteristik jalanan di dalam Kota Jogja saat ini sudah tidak ideal untuk dijadikan lintasan balap, meskipun hanya untuk ajang temporer. Menurutnya, ruang publik yang dulu mungkin bisa disulap menjadi lintasan non-permanen, kini telah terkepung oleh hunian dan pusat perniagaan yang sangat rapat.
"Rasanya tidak mungkin kalau di Jogja untuk saat ini. Akses mobilitas warga mau dikemanakan kalau jalan ditutup untuk sirkuit," jelasnya, Jumat (15/5/2026).

Baca Juga: Tanpa Alas Kaki dan Maksimalkan Feeling, Yusaku Yamadera Sebut Grounding Digemari Atlet untuk Jaga Fokus dan Adaptasi Lapangan

Selain itu, lanjut Arief, gangguan kebisingan serta dampak lingkungan lainnya pasti akan menjadi keluhan utama masyarakat jika balapan dipaksakan digelar di area pemukiman padat.  Oleh karena itu, saat ini para pegiat otomotif di Jogjakarta hanya bergantung pada area parkir Stadion Mandala Krida sebagai lokasi latihan maupun lomba. 

Pilihan lainnya mulai bergeser ke pinggiran seperti kawasan Maguwoharjo International Stadium (MagIS) di Sleman, Lanud Gading di Gunungkidul, hingga menyeberang ke Banjarnegara, Jateng. "Cuman itu aja tempatnya yang masih memungkinkan. Lain-lain sudah tidak mungkin," tegasnya. 

Meski fasilitas masih terbatas, Arif menekankan bahwa IMI DIJ tidak akan tinggal diam. Upaya untuk mewujudkan sirkuit permanen yang lebih layak pun masih terus digodok. IMI akan mencari lahan berstatus Sultan Ground (SG) untuk dijadikan sirkuit. 

Baca Juga: Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Soroti Pembinaan Usia Dini: Pemain Indonesia Terlambat Belajar Sepak Bola

"Tapi itu juga tidak akan mudah. Sewa tanahnya saja di Jogja Rp 101.500 per meter. Padahal butuh paling minim tujuh hektare. Itu baru sewa, belum pematangan lahan, aspal, hingga fasilitas pendukung," ungkapnya. 

Tak hanya lahan, menurut Arief, hambatan lain untuk mewujudkan sirkuit juga muncul dari sisi regulasi anggaran. Karena pengadaan sirkuit ini cenderung digerakkan oleh pihak swasta atau organisasi, maka dana APBD tidak bisa serta-merta digunakan untuk pembiayaan penuh.

​"Kami terus berupaya mencari solusi di luar dana pemerintah, yakni merangkul pihak swasta. Kemarin saat raker, KONI DIY sudah memberi sinyal dukungan, tapi bentuk nyatanya masih kami tunggu," bebernya.

Baca Juga: Pemain Asal Ghana Latif Blessing Segera Mendarat ke Sleman, Bergabung dengan PSS untuk Perkuat Musim Depan

Maka dari itu, Arief berharap masyarakat dan para pecinta otomotif bersabar. Meski belum memiliki sirkuit sendiri, IMI sendiri saat ini akan berusaha menghadirkan lintasan yang layak agar atlet-atlet balap DIY, terutama yang namanya sudah tersohor hingga tingkat dunia tidak lagi kesulitan mencari tempat latihan.

"Masa pebalapnya sudah tingkat dunia tapi sirkuit saja tidak punya? Kami sedang berupaya mewujudkan mimpi itu. Doakan saja secepatnya," tandasnya. (ayu/laz)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Sirkuit Dadakan #Sirkuit balap #IMI DIY #balap motor #ikatan motor indonesia