Selain itu, lanjut Arief, gangguan kebisingan serta dampak lingkungan lainnya pasti akan menjadi keluhan utama masyarakat jika balapan dipaksakan digelar di area pemukiman padat. Oleh karena itu, saat ini para pegiat otomotif di Jogjakarta hanya bergantung pada area parkir Stadion Mandala Krida sebagai lokasi latihan maupun lomba.
Pilihan lainnya mulai bergeser ke pinggiran seperti kawasan Maguwoharjo International Stadium (MagIS) di Sleman, Lanud Gading di Gunungkidul, hingga menyeberang ke Banjarnegara, Jateng. "Cuman itu aja tempatnya yang masih memungkinkan. Lain-lain sudah tidak mungkin," tegasnya.
Meski fasilitas masih terbatas, Arif menekankan bahwa IMI DIJ tidak akan tinggal diam. Upaya untuk mewujudkan sirkuit permanen yang lebih layak pun masih terus digodok. IMI akan mencari lahan berstatus Sultan Ground (SG) untuk dijadikan sirkuit.
"Tapi itu juga tidak akan mudah. Sewa tanahnya saja di Jogja Rp 101.500 per meter. Padahal butuh paling minim tujuh hektare. Itu baru sewa, belum pematangan lahan, aspal, hingga fasilitas pendukung," ungkapnya.
Tak hanya lahan, menurut Arief, hambatan lain untuk mewujudkan sirkuit juga muncul dari sisi regulasi anggaran. Karena pengadaan sirkuit ini cenderung digerakkan oleh pihak swasta atau organisasi, maka dana APBD tidak bisa serta-merta digunakan untuk pembiayaan penuh.
"Kami terus berupaya mencari solusi di luar dana pemerintah, yakni merangkul pihak swasta. Kemarin saat raker, KONI DIY sudah memberi sinyal dukungan, tapi bentuk nyatanya masih kami tunggu," bebernya.
Maka dari itu, Arief berharap masyarakat dan para pecinta otomotif bersabar. Meski belum memiliki sirkuit sendiri, IMI sendiri saat ini akan berusaha menghadirkan lintasan yang layak agar atlet-atlet balap DIY, terutama yang namanya sudah tersohor hingga tingkat dunia tidak lagi kesulitan mencari tempat latihan.
"Masa pebalapnya sudah tingkat dunia tapi sirkuit saja tidak punya? Kami sedang berupaya mewujudkan mimpi itu. Doakan saja secepatnya," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita