RADAR JOGJA - Jauh sebelum gim digital merajai, permainan monopoli sempat menjadi hiburan utama sekaligus ruang belajar strategi bagi banyak anak. Bagi sebagian orang, kenangan bermain monopoli itu masih tersimpan rapi. Tentang tawa, debat, hingga cara sederhana memahami uang dan keputusan.
Saat televisi belum menjadi pusat hiburan dan gawai belum dikenal, permainan monopoli hadir sebagai teman akrab anak-anak. Kondisi itu dialami oleh warga Kota Magelang, Ch Kurniawati. Dia mengenal permainan itu di era 1970-an, saat duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Ia bermain secara autodidak. Semua dipahami sambil bermain. Dari situlah monopoli menjadi lebih dari sekadar permainan. "Kalau libur atau pekerjaan rumah sudah selesai, pasti main," kenangnya, Jumat (10/4).
Baca Juga: Kades Sambeng Menghilang sejak Desember 2025, Pelayanan Desa Tetap Berjalan
Bagi Wati, monopoli bukan hanya soal menang atau kalah. Permainan ini menjadi ruang interaksi keluarga. Ia bermain bersama kakak dan adik, bahkan papan monopoli dibeli dari hasil iuran bersama.
Di meja permainan itu, suasana kerap riuh. Perdebatan kecil hingga saling mengejek menjadi hal yang lumrah. Namun justru di situlah letak keseruannya. "Memang harus ada debat. Itu yang bikin hidup. Tapi, ya cuma di permainan," lontarnya.
Tak jarang ada hukuman bagi yang kalah, mulai dari dijitak hingga diolesi bedak. Hal-hal itu, kata dia, memang sederhana dan kini justru sulit ditemukan dalam interaksi anak-anak modern.
Menurutnya, monopoli juga membuka jendela pengetahuan. Dari papan permainan, Wati mengenal berbagai nama tempat seperti Selecta hingga Bukittinggi. Bahkan, lokasi itu kemudian benar-benar ia kunjungi di dunia nyata.
Baca Juga: Laga Penentu Langkah Kedua Tim, Jadi Partai "Hidup Mati" Barito Putera FC dan PSS Sleman
Meski ekspektasi tidak selalu sesuai, pengalaman itu meninggalkan kesan tersendiri. "Pas ke sana atau ke berbagai tempat wisata, saya ingat ini ada di monopoli. Walaupun ternyata tidak seindah di permainan," kelakarnya.
Dia menjelaskan, permainan monopoli secara tidak langsung melatih cara berpikir. Pemain dituntut mengambil keputusan. Antara membeli properti, menyimpan uang, atau bahkan berutang melalui bank.
Menurut dia, di situlah letak nilai utama permainan ini, yakni membangun pola pikir strategis. "Harus bisa mempertimbangkan. Mau investasi atau tidak. Itu secara tidak langsung dapat melatih otak," paparnya.
Dia melanjutkan, meski keberuntungan tetap berperan melalui kartu kesempatan atau dana umum, tapi strategi dinilai menjadi kunci utama untuk bertahan dan menang.
Meski dimainkan sebagai hiburan, lanjut dia, monopoli ternyata meninggalkan jejak dalam cara pandang terhadap uang dan investasi. Wati mengaku, baru merasakan dampaknya di kemudian hari.
Baca Juga: Laga Penentu Langkah Kedua Tim, Jadi Partai "Hidup Mati" Barito Putera FC dan PSS Sleman
Ia menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial, termasuk saat mempertimbangkan pembelian properti. "Jadi lebih berpikir, tidak sembarangan. Harus dihitung dulu," urainya.
Kini, popularitas monopoli kian meredup. Generasi muda cenderung beralih ke gim digital yang lebih praktis dan cepat. Menurutnya, selain faktor teknologi, minimnya pengenalan juga membuat permainan ini semakin ditinggalkan.
Padahal, kata Wati, permainan ini membutuhkan waktu, interaksi langsung, dan kesabaran. "Sekarang anak-anak lebih pilih main di ponsel. Monopoli dianggap lama dan ribet," ujarnya.
Meski demikian, monopoli dinilai belum kehilangan relevansinya. Justru di tengah dominasi teknologi, permainan ini menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni interaksi tatap muka.
Dalam satu papan, pemain bisa berkomunikasi, bernegosiasi, hingga membangun kedekatan emosional, tanpa perantara layar. Ia pun mengaku masih ingin bermain monopoli jika ada kesempatan. "Bisa bercanda langsung, saling mengejek, itu yang tidak ada di gim sekarang," kenangnya.
Berbeda dengan Wati, Miftakhul Hayu Jatiningtias dari Candimulyo mengenal monopoli di era yang sudah mulai bersentuhan dengan teknologi, sekitar tahun 2004. Ia masih merasakan bermain monopoli fisik, tetapi juga mengalami peralihan ke versi digital saat kuliah.
Dulu, ia kerap bermain bersama teman sekolah maupun kampusnya. Namun bagi dia, esensi permainan tetap sama, yakni menguasai properti sebanyak mungkin dan mengendalikan permainan.
Strateginya cenderung agresif di awal, yakni dengan mengumpulkan aset sebanyak mungkin. Lalu berubah menjadi lebih hati-hati setelah posisi kuat terbentuk. "Kalau bisa kuasai satu blok, apalagi yang mahal, itu kunci. Lawan lewat pasti kena denda," paparnya. (aya/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita