Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Kei Pottery, Wisata Keramik Sekaligus Ruang Belajar Seni: Bukan Sekadar Destinasi tapi Tawarkan Pengalaman Wisatawan untuk Membuat Langsung

Fahmi Fahriza • Minggu, 29 Maret 2026 | 08:00 WIB
PROSES PRODUKSI: Pegawai Kei Pottery saat melakukan finishing salah satu produk keramik. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
PROSES PRODUKSI: Pegawai Kei Pottery saat melakukan finishing salah satu produk keramik. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 BANTUL – Di tengah perkampungan di wilayah Pendowoharjo, Sewon, tersembunyi sebuah destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman berbeda.

Kei Pottery tak hanya menjadi tempat produksi keramik, tetapi juga ruang edukasi bagi wisatawan yang ingin memahami proses panjang di balik sebuah karya handmade.

Owner Kei Pottery Heroe Santoso Kurniawan menjelaskan, setiap produk keramik dibuat melalui tahapan yang tidak singkat.

Baca Juga: Pembalap Muda Andalan DIY Aldi Satya Mahendra Target Pertahankan Posisi Klasemen di Seri 2 World Supersport Portimao

Proses dimulai dari pencampuran bahan, pencetakan, hingga pembakaran dengan suhu tinggi.

"Dari cetakan keluar, nanti dibakar setengah, itu sekitar 800 derajat celsius, setelah itu baru diwarna dan dibakar lagi," ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Proses tersebut tidak instan. Untuk menghasilkan satu produk jadi, dibutuhkan waktu hingga dua minggu.

Tahapan paling lama justru berada pada proses pengeringan alami sebelum masuk ke tahap pembakaran.

Baca Juga: Belum Jadi Pilihan Utama di PSIM Jogja, Donny Warmerdam Tetap Optimistis Kembali ke Performa Terbaiknya

"Yang paling lama itu di pengeringan. Kita keringkan secara alami saja, tidak langsung kena matahari," kata Heroe.

Kei Pottery menggunakan teknik pembakaran tinggi, dengan suhu mencapai 1.200 derajat celsius untuk menghasilkan glasir yang kuat dan mengilap.

Bahan bakunya pun tidak berasal dari satu daerah saja, melainkan campuran tanah liat dari berbagai wilayah seperti Sukabumi, Singkawang, hingga dari Bangka Belitung.

"Setiap campuran kita punya resep sendiri. Jadi diolah dulu jadi bubur karena sistemnya casting,"  jelasnya.

Baca Juga: Sempat Viral, DLH Bantul Segera Cek Sungai Winongo yang Dipenuhi Sampah: Pesankan Ini!

Berbeda dengan produk terakota yang umum ditemukan, keramik di Kei Pottery memiliki daya tahan lebih tinggi dan tampilan lebih halus karena proses glasir tersebut.

Heroe menuturkan, Kei Pottery berdiri sejak 2005, berawal dari ketertarikan pribadi Heroe yang belajar secara otodidak.

Tanpa latar belakang pendidikan formal seni, ia mengembangkan usahanya dari skala kecil hingga kini dikenal luas, termasuk oleh hotel dan restoran.

"Sebetulnya ini dari hobi saja, saya juga tidak menyangka akhirnya ini jadi pekerjaan," ungkapnya.

Baca Juga: Simpang Tempel Jadi Jalur Batas Provinsi Terpadat di DIJ, Dishub Sleman Sebut Arus Kendaraan Masih Terkendali

Seiring perkembangan media sosial, tempat ini mulai ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk membeli, tetapi juga merasakan langsung proses pembuatan keramik melalui kelas pottery.

Untuk diketahui, program pottery class menjadi salah satu daya tarik utama. Dalam satu sesi berdurasi sekitar tiga jam, para peserta diajak membuat keramik dari awal hingga tahap pembentukan.

"Kita ada kelas pottery by appointment. Minimal dua orang, sekitar tiga jam. Nanti hasilnya kita proses, sekitar dua minggu jadi lalu kita kirimkan," terangnya.

Baca Juga: Antisipasi Gagal Panen saat Kemarau, DKPP Bantul Telah Siapkan Bantuan Ratusan Pompa Air untuk Petani

Menariknya, banyak wisatawan asing yang juga mengikuti kelas ini. Mereka biasanya menyesuaikan jadwal liburan agar hasil karyanya selesai sebelum kembali ke negara asal.

"Lumayan sering turis asing ke sini. Biasanya memang mereka datang ke Jogja selama beberapa pekan, jadi sempat untuk ikut sampai produk jadi," paparnya.

Keunikan Kei Pottery tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada lokasinya yang berada di dalam kampung.

Bagi Heroe, konsep ini justru menjadi nilai lebih dibanding membuka toko di pusat kota. "Ini sengaja biar lebih menarik. Orang masuk kampung itu juga menjadi pengalaman sendiri," ujarnya.

Baca Juga: Dulu Diserbu Jelang Lebaran, Kini Tak Ada Lagi Orderan Sepasang Baju Lebaran: Begini Cara Penjahit Bertahan

Dengan konsep toko sekaligus workshop dalam satu lokasi, Kei Pottery menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal dan autentik.

Pengunjung dapat melihat langsung proses produksi, berinteraksi dengan perajin, hingga mencoba membuat karya sendiri.

Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern, Kei Pottery menjadi alternatif bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang lebih mendalam, bukan sekadar melihat, tetapi ikut merasakan proses kreatif dari tanah liat hingga menjadi karya seni bernilai tinggi.

"Saya tidak akan pindah tempat atau buka cabang. Memang itu salah satu keunikan yang kami tawarkan," bebernya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Wisata Keramik #Kei Pottery #pengalaman #Seni #Bantul #destinasi wisata #ruang belajar #Wisatawan