RADAR JOGJA - Lembaga Penyiaran Publik RRI Jogja melalui Programa 4 (Pro 4) masih terus mempertahankan ketoprak sebagai salah satu program siaran. Namun pementasannya mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman.
Pengelola Pro 4 RRI Jogja Titik Renggani mengatakan, pentas ketoprak sudah ada sejak lama. Bahkan pementasan perdananya dilakukan tidak lama setelah RRI Jogja didirikan pada 11 September 1945 lalu.
Titik mengungkap, siaran ketoprak hadir berkat kegemaran pegawai RRI Jogja dalam bidang kesenian. Lalu berkembang menjadi program siaran rutin yang masih bertahan hingga kini.
Dia mengenang, Ketoprak RRI dulunya juga sering dipentaskan secara langsung. Baik di kantor RRI Jogja maupun secara keliling dari desa ke desa.
“Dulu di tahun 2005 pernah ada pentas ketoprak yang cukup meriah, bahkan ada penggemar dari Purworejo yang datang rombongan dengan bus ke Kantor RRI,” ujar Titik saat ditemui di kantornya, Kamis (8/1).
Seiring berkembangnya zaman, Ketoprak RRI kini mulai beralih ke media digital. Pementasan yang dulu hanya bisa dinikmati langsung atau siaran radio sekarang dapat dilihat secara daring lewat kanal YouTube.
Titik memastikan, esensi kemeriahan pentas Ketoprak RRI Jogja tidak berubah. Lantaran pementasannya tetap dilakukan secara langsung dari Auditorium RRI. Bahkan juga memfasilitasi seniman-seniman muda untuk tampil melalui program siaran.
Menurutnya, Ketoprak RRI juga banyak melahirkan bintang-bintang ketoprak. Sebut saja Tuminten, Umining Priyanti, Bagong Sutrisno, Yatman, hingga Yu Beruk. Lalu, yang cukup dikenal di masa sekarang ada Dalijo Angkring dan Marwoto.
Titik menegaskan, keberadaan program ketoprak di RRI Jogja bukan sekedar mengisi jam siaran. Melainkan sebuah tanggung jawab sosial sebagai lembaga penyiaran publik untuk melestarikan kearifan lokal.
“Kami ingin mengenalkan kepada generasi muda agar mereka lebih memahami dan ikut melestarikan budaya, mulai dari anak-anak TK sampai dewasa," tandas Titik. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita