Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terarium dan Anak Muda, Jadi Praktik Kriya Hidup di Tengah Budaya Urban

Fahmi Fahriza • Sabtu, 3 Januari 2026 | 06:30 WIB

 

Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Muhajirin.
Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr. Muhajirin.

JOGJA – Dosen Program Studi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr Muhajirin menilai, maraknya terarium merupakan cerminan pergeseran minat estetik generasi muda terhadap praktik kreatif yang lebih personal dan ekologis.

Lebih jauh, terarium juga dibaca sebagai medium kreativitas yang menghadirkan relasi baru antara manusia, seni, dan alam dalam skala mikro.

"Terarium tidak hanya dipandang sebagai objek dekoratif, tetapi juga sebagai medium ekspresi diri yang menggabungkan unsur alam, perawatan, dan kreativitas visual," ujarnya, Jumat (19/12/2025).

 Baca Juga: Bupati Kulon Progo Agung Setyawan Beri Kode, Giliran Kepala BKP SDM Yang Dirotasi Bulan Depan

Ia menjelaskan, popularitas terarium tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan urban yang semakin menjauh dari alam.

Dalam kondisi tersebut, terarium hadir sebagai bentuk rekoneksi manusia dengan lingkungan hidup.

"Terarium hadir sebagai respons atas gaya hidup urban yang semakin jauh dari alam, sehingga menjadi medium rekoneksi antara manusia dan lingkungan hidup dalam skala mikro," kata Muhajirin.

 Baca Juga: Duh! Bisnis Sewa Motor di Kota Jogja Lesu selama Musim Libur Nataru, Ini Penyebabnya

Dari sudut pandang akademik seni kriya, terarium dapat dikategorikan sebagai karya kriya, terutama jika dilihat dari proses dan pendekatan pembuatannya.

"Seni kriya tidak semata-mata ditentukan oleh tradisi lama, tetapi oleh proses transformasi material menjadi objek bermakna," jelasnya.

Menurutnya, terarium memenuhi prinsip kriya karena melibatkan keterampilan tangan, pemilihan material, perancangan bentuk, serta pertimbangan fungsi dan estetika.

Berbagai unsur itu terlihat dalam penyusunan komposisi, eksplorasi material seperti kaca, tanah, batu, dan tanaman, hingga kepekaan terhadap bentuk, tekstur, dan warna.

Menariknya, terarium juga memperluas pemahaman kriya sebagai karya yang tidak statis.

"Adanya proses perawatan berkelanjutan memperluas pemahaman kriya tidak hanya sebagai benda statis, tetapi sebagai karya yang hidup dan dinamis," jelasnya.

 Baca Juga: Produktivitas Pangan Jawa Tengah 2025 Capai Target Nasional, Bakal Lebih Digenjot pada 2026

Dalam klasifikasi praktik kriya, terarium diposisikan sebagai bagian dari kriya kontemporer.

Hal ini karena terarium lahir dari konteks kekinian dan bersinggungan erat dengan isu-isu modern.

"Terarium bersifat lebih terbuka, eksperimental, dan kontekstual terhadap isu-isu masa kini, seperti keberlanjutan dan gaya hidup urban," terangnya.

 Baca Juga: Proyeksi 9 Juta Kemenhub Meleset, Wisatawan ke DIY Hanya Sekitar 2 Juta: Pemprov DIY Masih Soroti Parkir Liar

Namun demikian, penggunaan material hidup juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam wacana seni kriya.

Tanaman sebagai medium memiliki sifat yang terus berubah dan bergantung pada kondisi lingkungan.

Kondisi tersebut, justru memperkaya wacana kriya karena menuntut pendekatan lintas disiplin, mulai dari pengetahuan botani hingga ekologi.

Melihat perkembangan tersebut, fenomena terarium dinilai memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam praktik pendidikan seni kriya.

"Terarium bisa digunakan untuk mengajarkan dasar-dasar komposisi, eksplorasi material, kesadaran ekologis, serta kewirausahaan kreatif," tambahnya.

Ia pun optimistis, masuknya anak muda ke dunia seni kriya melalui medium populer seperti terarium akan membawa dampak positif bagi masa depan kriya itu sendiri.

"Seni kriya akan semakin inklusif, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman," imbuhnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#anak muda #Budaya Urban #Terarium #Praktik Kriya