JOGJA – Di tengah gempuran teknologi digital printing, nama FX A Samsoelhadi mungkin tak lagi akrab di telinga generasi sekarang.
Padahal, pendiri Samsoel Group itu pernah menjadi maestro baliho lukis manual yang karyanya mendominasi wajah pusat Kota Jogja pada era 1970 hingga 1990-an.
Putra keempat Samsoelhadi, Y Agung Saputro mengatakan, ayahnya dikenal sebagai seniman yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi.
Pada sekitar 1975, Samsoelhadi bahkan pernah menghadap wali kota setempat karena merasa resah dengan pemasangan baliho film King Kong yang menempel di bangunan bersejarah Gedung Senisono.
“Beliau menghadap wali kota, menawarkan diri untuk mengganti gambar itu dengan tema-tema perjuangan,” ujar Agung kepada Radar Jogja, Jumat (19/12/2025).
Keberanian tersebut yang kemudian mengawali berdirinya Samsoel Group.
Sebuah usaha jasa pembuatan baliho luar ruangan milik Samsoelhadi yang karyanya identik dengan lukisan manual berukuran raksasa.
Karya Samsoel Group identik dengan pesan-pesan berbau perjuangan rakyat Indonesia. Sebab disesuaikan dengan hari besar nasional.
Namun juga ada beberapa karya yang bersifat informatif seperti jadwal penyelenggaraan Sekaten.
Dulu, baliho yang dilukis oleh Samsoelhadi menghiasi beberapa titik strategis di pusat kota.
Misalnya terpasang di Kantor Pos Besar atau yang kini dikenal dengan Titik Nol Kilometer.
Agung mengungkap, ayahnya membuat karya baliho raksasa seluruhnya dengan tangan.
Baik itu dari membuat sketsa dengan kertas kecil, maupun proses melukis manual di atas rangkaian triplek berukuran raksasa.
“Karya bapak bagi saya membawa kebanggaan tersendiri, sebab ditorehkan dengan tangan tanpa bantuan alat modern dan selalu dilihat banyak orang,” katanya.
Berkat dedikasinya pula, Samsoelhadi diketahui pernah menggelar pameran poster di berbagai kota.
Misalnya saat pertemuan Non-Blok di Senayan dan Gelora Bung Karno, dan sempat juga membuat pameran seni rupa di Aceh.
Baca Juga: Kemenkop dan LPDB Koperasi Perkuat 300 Talenta PMO Kopdes Merah Putih
Bagi keluarga, Agung menilai ayahnya bukan sekadar pengusaha reklame atau pembuat baliho.
Namun merupakan seniman yang menjadikan ruang publik sebagai galeri pesan moral.
Salah satunya dengan memanfaatkan baliho sebagai media menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Indonesia.
"Pesan di baliho bapak itu pasti selalu tentang unsur budaya, ke-Indonesiaan, dan nasionalisme," beber Agung. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita