JOGJA - Fenomena anak muda dan remaja yang lebih nyaman bercerita atau curhat di luar lingkungan keluarga, kini semakin nyata. Jika dulu mereka mengungkapkan isi hati lewat program radio, salah satunya seperti program curhat di Radio Yasika FM, kini ruang curhat itu bergeser ke media sosial dan forum-forum daring.
Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Ismatul Izzah mengungkapkan, fenomena ini bisa jadi salah satu indikator yang mencerminkan perubahan fungsi emosional keluarga dan dinamika psikologis remaja di era digital.
"Keluarga harusnya jadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak untuk berbagi perasaan. Namun jika fungsi afektif keluarga tidak berjalan optimal, anak mencari ruang alternatif di luar," ujar Isma kepada Radar Jogja, Sabtu (11/10).
Menurutnya, pergeseran tempat curhat ini tidak selalu berarti hubungan emosional antara orang tua dan anak benar-benar renggang. Sebab, ada faktor perkembangan khas masa remaja yang turut memengaruhi.
"Remaja mengalami perubahan hormonal dan emosi yang fluktuatif. Mereka juga di fase pencarian jati diri. Lebih dekat dengan teman dan butuh pengakuan eksistensi. Itu membuat mereka ikut tren curhat di ruang publik," jelasnya.
Isma menilai, adanya perubahan medium dari radio ke media sosial merupakan konsekuensi alami perkembangan teknologi komunikasi. Jika dulu curhat lewat radio seperti Greatest Memory memberi ruang privat untuk menyalurkan emosi dengan pendengar yang terbatas, kini media sosial menawarkan fitur yang lebih terbuka dan interaktif.
"Platform digital memberi kenyamanan baru. Ada feedback, dukungan dari komunitas yang punya pengalaman serupa, dan mudah mengekspresikan diri. Itu membuat mereka merasa lebih diterima," ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan adanya risiko psikologis yang menyertai fenomena ini. Dalam konteks hari ini, remaja bisa mengalami ketergantungan terhadap validasi online, seperti komentar dan like, serta berpotensi menghadapi komentar negatif atau penyebaran data pribadi.
Selanjutnya, menurut Isma, ada sejumlah faktor yang membuat anak atau remaja enggan terbuka kepada orang tua. Mulai dari kesenjangan generasi, kekhawatiran menambah beban orang tua, hingga rasa takut dihakimi.
"Kadang anak tahu orang tuanya sedang stres atau lelah, jadi mereka memilih diam. Ada juga yang merasa orang tua tidak hadir atau terlalu sibuk, jadi kehilangan momen interaksi secara emosional," katanya.
Selain itu, ekspektasi tinggi orang tua juga bisa membuat anak merasa tertekan dan menutup diri. Sementara media sosial saat ini, kata Isma, menawarkan ruang aman semu, di mana mereka merasa tidak dihakimi.
Lebih lanjut ia berpesan untuk membangun kembali kepercayaan dan keterbukaan, orang tua perlu hadir secara emosional bagi anak. Isma menyarankan agar orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak, bukan hanya sosok pengatur.
"Orang tua perlu mendengar tanpa menghakimi, dengan bahasa yang empatik, dan ciptakan aktivitas bersama. Kehadiran nyata lebih berharga daripada nasihat panjang," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan dalam penggunaan media sosial, termasuk memberi batasan dan mengajarkan etika digital.
"Media sosial tak harus dijauhi, tapi perlu didampingi. Dengan begitu, anak tetap bisa menyalurkan ekspresinya tanpa kehilangan arah dan batas," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita