Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Awal Muncul di Yogyakarta Tahun 90-an, Bergeser dari Burjo ke Warmindo karena Sosiokultural

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 28 September 2025 | 14:30 WIB
Ketua Persatuan Pengusaha Warga Kuningan (PPWK) Andi Waruga.
Ketua Persatuan Pengusaha Warga Kuningan (PPWK) Andi Waruga.

JOGJA - Burjonan atau yang kini lebih dikenal sebagai Warung Makan Indomi (Warmindo) ternyata sudah lama menemani kehidupan warga Jogja.

Seiring zaman berkembang, unit usaha yang khas dengan warga Kuningan, Jawa Barat, itu banyak mengalami perubahan.

Ketua Persatuan Pengusaha Warga Kuningan (PPWK) Andi Waruga mengatakan, burjo sendiri merupakan singkatan dari bubur kacang ijo (hijau). Unit usaha itu sudah ada di Jogjakarta sejak tahun 90-an.

Andi mengakui, burjo memang sudah banyak mengalami perubahan. Salah satunya dari jenis barang yang dijual.

Dulu burjo dikenal karena menjual bubur kacang hijau. Namun sekarang lebih banyak menjual mi instan dan makanan siap saji seperti nasi telur serta sarden.

Menurutnya, perubahan itu terjadi karena pengaruh sosiokultural pelanggan. Pasalnya burjo tidak terlalu diminati karena dianggap seperti kudapan.

Pelanggan yang mayoritas mahasiswa lebih memilih untuk membeli nasi atau mi instan. Karena dinilai lebih kenyang dibandingkan burjo itu sendiri.

"Sehingga kami sepakat untuk merubah nama dari burjo menjadi warmindo. Nama warmindo juga tidak lepas dari kedekatan kami dengan salah satu brand mi instan,” kata Andi kepada Radar Jogja, Jumat (12/9/2025).

Pemilik Burjo HS itu menyatakan, sampai saat ini ada 800 outlet burjo di Jogjakarta. Sementara yang masih menjual burjo khas Kuningan hanya satu outlet. Yakni Warmindo Murni yang beralamat di Jalan Tunjung Baru, Baciro, Jogja.

Andi menyampaikan, bagi pelaku usaha, warmindo bukan hanya sekadar menawarkan makanan pereda kenyang.

Namun juga harus bisa membentuk kedekatan dengan pelanggan. Salah satunya lewat panggilan “Aa” bagi karyawan warmindo.

Menurut dia, panggilan “Aa” antara penjual dengan pelanggan selayaknya teman dekat. Sehingga warmindo bukan sekadar tempat menjual makanan. Namun juga bisa menjadi ruang bercerita bagi pelanggannya.

“Etika dan pelayanan yang seperti teman dekat itulah yang selalu menjadi ciri khas warmindo Kuningan,” jelasnya. (inu/laz)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Warmindo #Warung Makan Indomie #Warga Jogja #bubur kacang ijo #burjo #Burjonan