RADAR JOGJA - Suasana Tilasawa Coffee Manukan pada Jumat (29/8) malam terasa berbeda. Kafe yang berada Kalurahan Condongcatur ini dipenuhi oleh penonton. Mereka antusias menonton 32 komika yang tengah bertanding dalam Liga Tawa Istimewa. Ini jadi season ketiga sejak awal diselenggarakan.
Pada babak audisi ini, kegiatan dimulai pukul 20.00. Tiap peserta tampil selama tiga menit untuk berlomba mendapatkan golden ticket.
Baca Juga: Pukul 21.00 Massa Aksi di Mapolda DIY Masih Bertahan, Tembakan Gas Air Mata Meluas
Ketua Stand Up Indo Jogja Miftakhul Ilmy menjelaskan, komunitas ini sudah berdiri sejak 2011. Tepatnya seminggu setelah Komunitas Stand Up Indonesia berdiri pada 13 Juli 2011.
Meski demikian, sebenarnya sudah ada wadah serupa bernama Freedom Of Nggambleh. Tempat untuk menyampaikan orasi dan cerita-cerita lucu.
"Untuk anggota sekarang sekitar 80 orang. Tidak ada batasan usia. Ada yang masuk ketika SMP sampai usia 70-an," ungkapnya ditemui di lokasi, Jumat (29/8).
Baca Juga: Pengadaan PPPK Tahun 2024 Telah Usai, namun Masih Terdapat Formasi Kosong karena Sepi Peminat
Laki-laki yang turut bertugas jadi juri malam ini menyebutkan, untuk jadi anggota tidak harus lucu. Mereka yang baru bergabung justru banyak yang merintis dari nol. Syarat untuk jadi anggota hanya datang di acara rutinan untuk belajar bersama-sama.
"Untuk semua anggota memang diusahakan untuk bisa stand up meski nanti ada yang fokus di event atau kontennya," katanya.
Ilmy bercerita, ada dua agenda rutin yang digelar oleh Stand Up Indo Jogja. Tiap Selasa untuk saling berbagai materi dan cara membawakan materi di atas panggung. Sementara kegiatan lainnya dilakukan tiap hari Jumat untuk para anggota komunitas belajar tampil.
Baca Juga: Pemkab Minta Maaf soal Insiden di Kebumen Fest, Sebut Pelaksanaan Sudah Diserahkan ke EO
Menurutnya, tidak ada target khusus dari semua kegiatan yang digelar komunitas. Beberapa menargetkan diri untuk bisa bergabung dengan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI). Bisa hanya untuk hobi atau sekadar mengasah kemampuan berbicara di depan khalayak umum.
"Kalau kami pengennya bisa ngembangin komika yang belum bisa stand up jadi mahir, makin tahu, dan makin lucu," katanya.
Laki-laki asal Magelang ini menyebut, Jogja sebagai kota pendatang membuat anggotanya beragam. Ada yang membawakan cerita absurd, hanya menyampaikan sepatah dua patah kata, hingga kebanyakan gerak atau para komika menyebutnya dengan act out.
Baca Juga: Polisi Mulai Tembakkan Gas Air Mata ke Arah Massa di Sekitar Mapolda DIY
Disinggung soal materi yang dibawakan, Ilmy menyebut Stand Up Indo Jogja tidak memberikan batasan apapun. Ada yang menyuarakan keresahan tentang negara, cerita pribadi, keluarga, hingga soal pekerjaan.
"Stand up ini jadi wadah mereka untuk menyampaikan keresahan itu. Enggak ada batasan selama penonton ketawa," ucapnya.
Baca Juga: Aksi di Mapolda DIY Rusuh, Mobil Dibakar Massa, Situasi Makin Memanas, Aparat TNI Diturunkan
Menurutnya, materi yang ada tidak bisa sembarang disampaikan. Harus ada teori-teori yang dipelajari. Salah satu yang paling dasar adalah premis-set up-punchline. Premis sendiri adalah ide besar atau sikap terhadap suatu keresahan. Sementara set up adalah alasan dari premis. Lalu punchline adalah twist atau bagian yang lucu.
"Itu yang paling basic. Teori lainnya mendukung percabangannya itu, gimana cari punchline," sebutnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita