Alfalink jadi salah satu alat bantu belajar yang berbentuk kamus elektronik. Alfalink sendiri populer pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an.
Meskipun cukup membantu dalam mencari kosakata dalam bahasa Inggris, harga yang tinggi membuat alat ini tidak terjangkau bagi semua kalangan. Di mana secara demografi penggunaannya banyak didominasi siswa dari kalangan menengah ke atas.
Salah seorang pengguna Alfalink pada masanya adalah Dr Sisca Rahmadonna yang kini menjabat ketua Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan sekaligus Kaprodi S1 Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (FIP UNY).
Ia menyebutkan, Alfalink memang menjadi alat bantu ajar yang cukup dikenal di zamannya. "Saya pakai itu saat kelas 3 SMA, sekitar tahun 2001," ujar perempuan asal Sukabumi itu kepada Radar Jogja, Jumat (6/6).
Menurutnya, Alfalink memang sebuah brand, meskipun pada saat itu juga terdapat merek lain dengan fungsi serupa. Namun dominasi Alfalink membuat nama itu menjadi ikon kamus elektronik di kalangan pelajar. Termasuk, brand atau produk-produk lainnya juga diasosiasikan dengan nama Alfalink.
Ia mengaku masih menggunakan perangkat itu ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Fitur utama yang tersedia di Alfalink berupa kamus bahasa Inggris yang cukup membantu, dan beberapa versi bahkan dilengkapi permainan hingga kalkulator.
"Lalu seiring berjalannya waktu, inovasinya makin meningkat. Tadinya hanya text, lalu ada inovasi voice," paparnya.
Namun seiring perkembangan teknologi dan masuknya internet secara intensif, Donna menyoroti popularitas Alfalink juga mulai menurun. "Masih ada yang jual, tapi sudah tidak masif," lanjutnya, mengingat masa transisi itu terjadi sebelum tahun 2010-an.
Dari sisi harga, Donna menyebut Alfalink memang tergolong mahal pada masanya. Hal itu yang menjadi salah satu rasionalisasi bahwa tidak semua orang punya akses dan kemampuan untuk membelinya.
"Harus diakui memang cukup mahal untuk tahun itu. Harganya beberapa ratus ribu. Minimal Rp 150 ribu kalau yang saya ingat," kenangnya.
Hal itu membuat pengguna Alfalink didominasi oleh pelajar dari keluarga menengah ke atas, khususnya siswa SMA dan mahasiswa. Untuk siswa SMP, diakui umumnya berasal dari sekolah-sekolah elite.
Sebagai dosen Teknologi Pendidikan, Donna juga menyoroti meskipun Alfalink bisa menjadi media belajar, tidak sedikit siswa yang hanya menggunakannya sebagai simbol gaya hidup atau lifestyle semata.
"Kalau ditanya apakah itu membantu iya, tapi juga banyak yang pakai itu lifestyle saja. Tidak berpengaruh signifikan terhadap pendidikan," tuturnya.
Ia menambahkan, fungsi Alfalink yang hanya bisa menerjemahkan satu kata per pencarian, menjadi kurang relevan saat internet dan aplikasi penerjemah semakin mudah diakses.
"Mungkin bisa bantu penggunanya untuk memahami atau mencari kosakata baru yang masih awam, karena Alfalink itu penggunaannya memang hanya bisa satu kata," ujarnya.
Donna juga menyebut pengguna Alfalink tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya terbatas di kota-kota besar saja. "Waktu saya di Sukabumi banyak yang pakai, lalu kuliah di Jogja juga banyak. Apalagi kota besar seperti Jakarta, jelas banyak," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun