JOGJA - Berbentuk kotak dengan pegangan di pundak, jodang menjadi alat bantu yang sering digunakan masyarakat zaman dulu. Alat sederhana yang biasanya berukuran 2x2 meter dengan berbahan kayu, digunakan untuk mengangkut berbagai macam barang.
Budayawan Anom Sucondro menyampaikan, jodang merupakan alat bantu yang sering digunakan masyarakat. Di zaman dulu, jodang digunakan untuk membawa hasil bumi seperti kelapa, beras, dan bahan-bahan rumah tangga.
"Terkadang hewan ternak juga menggunakan jodang, mengingat zaman dulu infrastruktur tidak bagus," ucap Anom.
Anom menyampaikan, jodang memiliki fungsi mempermudah mengangkat barang. Terutama di era belum banyaknya kendaraan bermotor. Jodang pilihan utama dalam membawa barang-barang berat, karena bisa dibawa oleh beberapa orang.
Beberapa jodang ukuran kecil biasanya digunakan untuk mengangkat barang kecil. Membutuhkan dua orang untuk mengangkat. Sedangkan jodang ukuran besar membutuhkan, empat orang untuk mengangkatnya. "Hampir sama tapi beda fungsi, jlagrak dan ancak berbeda," ucapnya.
Anom menjelaskan, jodang sangat berbeda dengan jlagrak dan ancak. Kendati memliki bentuk mirip, jodang memiliki fungsi yang berbeda. Ancak memiliki bentuk yang sama dengan jodang, namun fungsinya berbeda jauh.
Ancak biasanya digunakan untuk membawa gunungan. Lantaran bentuknya lebih sesuai digunakan membawa gunungan. Ancak tak memiliki pelindung pagar di sisi-sisinya, berbeda dengan jodang yang memiliki pagar.
Hal yang sama juga berlaku pada jlagrak. Jlagrak digunakan untuk menampung senjata atau pusaka. Bentuknya sangat jauh berbeda. Lantaran, fungsinya bukan sebagai alat bantu angkut. "Kalau sekarang jodang biasanya digunakan untuk upacara adat," ujarnya.
Jodang kini mulai ditinggalkan setelah kemajuan teknologi. Hanya saja, jejaknya masih bisa dilihat saat upacara adat. Setiap padukuhan biasanya memiliki jodang peninggalan leluhur. Sehingga, saat upacara adat seringkali dikeluarkan. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita