Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Komunitas Yokai Wotagei, Wadah Anak Muda Jogjakarta Dalami Kultur Jejepangan

Delima Purnamasari • Minggu, 16 Februari 2025 | 16:10 WIB

 

KOMPAK: Kegiatan anggota Komunitas Yokai Wotagei di berbagai acara saat menunjukkan aksi menari dengan tongkat bercahaya.
KOMPAK: Kegiatan anggota Komunitas Yokai Wotagei di berbagai acara saat menunjukkan aksi menari dengan tongkat bercahaya.
  

JOGJA - Wotagei adalah aksi menari dengan tongkat bercahaya. Ciri khasnya adalah tarian dilakukan dengan cepat dan penuh semangat. 

Salah satu wadah untuk mereka yang ingin mendalami kegiatan ini adalah Yokai. Kegiatan komunitas yang berada di Jogjakarta ini bisa dilihat melalui akun Instagram @yokai.ind.

 Baca Juga: Dinas Kesehatan Sleman Luncurkan Inovasi Sikat TB, Tingkatkan Capaian Pemeriksaan Warga Terduga Tuberkulosis

Leader Yokai Davin Naro menjelaskan, awalnya komunitas ini hanya wadah bagi mereka yang mendukung idol, menyukai anime, dan mengoleksi merchandise. Namun, semakin lama mereka ingin lebih mendalami kultur jejepangan. 

"Lalu sekitar tiga atau empat orang itu tahu soal main lampu ini. Tertarik dan belajar terus," kata laki-laki yang lebih dikenal dengan nama Vins ini. 

 Baca Juga: Pansus DPRD Bantul Datangi Agrowisata Bukit Dermo, Temukan Fasilitas Mangkrak hingga Gardu Pandang Berkarat

Komunitas ini baru dibentuk pada 23 September 2023. Meski demikian, mereka telah beberapa kali diundang untuk tampil di berbagai acara. 

Vins menjelaskan, teknik gerakan dalam wotagei disebut dengan waza. Dia menyebut jumlah waza tidak terbatas. Di antaranya ada thunder snake, muramasa, dan amaterasu (dewi matahari dalam mitologi Jepang). Setiap waza memiliki pola dan makna tersendiri. 

 Baca Juga: Honorer Gunungkidul Minta Kepastian PPPK: DPRD Pastikan Hak Status Mereka Jelas

"Kalau thunder snake itu awalnya gerakan petir lalu membuat bulatan seperti menggambarkan ular," katanya. 

 

Sementara terkait lagu, dia juga menyebut tidak ada batasan tertentu meski mayoritas masih berbau jejepangan. Syarat utamanya adalah ketukan atau yang kerap disebut beats per minute (BPM). Rata-rata 160-180 BPM. 

 

"Angka segitu tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Badan gerak masih enak," katanya. 

 

Lampu, gerakan, dan lagu ini akan dipadukan menjadi tarian tertentu. Umumnya wotagei ini dilakukan pada malam hari sehingga tongkat bercahaya atau akrab disebut light stick ini terlihat lebih menyala. 

 Baca Juga: 5 Kesalahan Umum yang Membuat Rumah Lebih Panas dan Boros Listrik

"Satu lagu bisa macam-macam gerakannya dan bisa diulang juga. Gak masalah," ucapnya. 

 

Vins juga menyebut, gerakan wotagei layaknya olahraga. Hal ini karena membutuhkan banyak energi karena gerakan yang cepat dan melibatkan seluruh anggota tubuh. 

"Sudah seperti kardio. Aku gerak 30 detik aja udah keringetan," ucapnya. 

 Baca Juga: 5 Kesalahan Umum yang Membuat Rumah Lebih Panas dan Boros Listrik

Vins tidak menampik bahwa wotagei lebih banyak diminati oleh laki-laki. Dia menilai hal tersebut terlihat dari penggemar idol group atau wibu yang mayoritas laki-laki. 

 

"Perempuan wibu itu langka. Tapi kalau mau cari tahu soal wotagei meski bukan wibu sebenarnya bisa juga," jelasnya. 

 

Menurutnya, semakin banyak orang berminat dengan wotagei ini. Bahkan, di Jakarta sudah sampai menyelenggarakan kompetisinya. 

 

Untuk itu, dia berpesan agar para peminatnya jangan sampai terbebani untuk menguasai semua waza. Hal terpenting adalah kebahagiaan mereka dalam menari wotagei ini. 

 

"Wotagei itu bikin kami ngulik lagu dan waza lalu jadi paham kultur jejepangan. Intinya dibawa seneng dan ngalir aja," ucap laki-laki asal Jogjakarta ini. (del/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Wotagei #Yokai #instagram #menari #tarian #light stick #tongkat #Idol Group #bercahaya #Komunitas Yokai Wotagei #jepang #Jogjakarta #Wibu #Jejepangan