JOGJA - Majalah Candra, tabloid Bias, dan majalah Gembira memiliki kenangan tersendiri bagi para pembacanya. Terlebih bagi para tenaga kependidikan dan siswa di Jogjakarta. Lantaran majalah ini diproduksi oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY.
Salah satu orang yang memiliki kenangan terhadap majalah ini adalah Kepala Sekolah SMPN 1 Jogja Yosepha Niken Sasanti. Ia mengaku dulu sangat akrab dengan majalah Candra. Sebab majalah itu dikirimkan langsung oleh Disdikpora DIY kepada sekolah-sekolah negeri di Jogjakarta.
Dia menilai, isi majalah dan tabloid itu sangat edukatif dan berguna. Baik untuk siswa maupun guru. Selain itu, siswa dan guru pun dapat menyumbangkan tulisan-tulisan tentang pendidikan atau karya fiksi. Misalnya karya puisi dan cerpen untuk dimuat di tabloid dan majalah tersebut. Niken pun dulunya cukup aktif menulis di majalah Candra.
“Kemasan konten atau artikel di tiga majalah itu informatif, edukatif, dan menghibur. Bisa menambah wawasan guru maupun siswa. Selain itu, juga menjadi ajang literasi baik bagi guru maupun siswa,” ujar Niken kepada Radar Jogja, Jumat (15/11/2024).
Di tengah sudah berhenti produksi majalah dan tabloid itu, Niken menilai kehadiran majalah seperti Candra dan dua tabloid lainnya sangat dibutuhkan. Lantaran di era digital seperti sekarang, siswa atau guru tetap membutuhkan wadah untuk menulis dan membaca secara fisik seperti media cetak.
Sebab, menurut dia, membaca majalah dapat memberikan pengalaman berbeda dibandingkan dengan membaca artikel di layar ponsel. Dikarenakan dapat membuat pembacanya lebih fokus pada satu bacaan tanpa adanya gangguan notifikasi.
Selain itu, Niken juga menekankan pentingnya memberikan wadah bagi siswa untuk menulis. Sebab menulis merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Dengan menulis, siswa dapat mengeksplorasi ide-ide mereka dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
Niken pun berharap pemerintah dan pihak terkait dapat kembali memberikan perhatian pada pentingnya literasi baca tulis. Salah satu contohnya dengan kembali menerbitkan majalah pendidikan seperti Candra untuk didistribusikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
"Saya senang seandainya majalah-majalah itu diterbitkan kembali, digratiskan untuk sekolah-sekolah. Minat baca anak-anak tetap perlu dipelihara. Mereka juga perlu wadah untuk menulis,” tegas Niken. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita