Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bufet Jadi Penanda Kelas dan Tingkat Ekonomi Seseorang, Pengaruh dari Arsitek Belanda Sangat Besar

Fahmi Fahriza • Minggu, 3 November 2024 | 15:30 WIB
Martino Dwi Nugroho (Ketua Jurusan Desain yang juga membidangi Desain Interior ISI Jogjakarta)
Martino Dwi Nugroho (Ketua Jurusan Desain yang juga membidangi Desain Interior ISI Jogjakarta)

RADAR JOGJA - Bufet lawasan secara garis besar difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang seperti buku, arsip, pajangan, hingga piring dan gelas. Bufet pernah memiliki masa jaya dan jadi benda yang prestisius bagi sebagian orang.

Ketua jurusan desain yang juga membidangi Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Martino Dwi Nugroho menerangkan, medio 1980-an ke belakang bufet memiliki value yang besar. Tidak saja dari segi fungsi, namun juga pride seseorang.

 "Di masa lampau bufet juga jadi penanda kelas dan tingkat ekonomi seseorang," katanya kepada Radar Jogja (26/10/2024).

Dari pengamatannya, bagi orang lokal, bufet pada zaman dulu hanya dimiliki oleh segelintir orang, utamanya mereka yang menengah ke atas. Dalam praktiknya, bufet dahulu banyak dibuat oleh arsitektur Belanda. Hal itu akhirnya memengaruhi interior, ornamen, hingga style dan motif yang kental dengan unsur kolonialisme.

"Harus diakui pengaruh arsitek Belanda itu sangat besar, dan itu terbawa pada banyak desain hingga saat ini. Selain gaya kolonialisme Belanda, bufet zaman dulu juga banyak dipengaruhi budaya China," tambahnya.

Kedua hal itu, kata Martino, akhirnya menciptakan sebuah akulturasi dalam penciptaan bufet yang lebih modern di era saat ini. Bahkan ia mengatakan, pengaruh dua kebudayaan itu tidak hanya terjadi di Pulau Jawa semata. Namun hampir menyeluruh di semua daerah di Indonesia.

Dalam prosesnya, arsitektur lokal Indonesia juga terus berinovasi dengan membuat style atau konsep baru dalam bufet saat ini. Namun jika diperhatikan secara mendalam, tetap ada kesan yang mencirikan terinsipirasi atau mengadopsi gaya bufet dari kedua budaya sebelumnya.

"Karena arsitektur dan desain dari Belanda maupun China itu memang bagus. Teliti dan detail," ujarnya.

Selain menggunakan material kayu, Martino mengungkapkan bufet juga banyak dikombinasikan dengan beberapa material lain sebagai hiasan. Seperti kaca, hingga marmer.

Saat ini bufet lawas juga masih diperjualbelikan. Baik bufet yang memang memiliki desain serta produksi lawas, atau yang sudah dilakukan restorasi agar lebih modern.

"Bufet lawas itu sekarang sudah banyak yang statusnya jadi barang koleksi. Peminatnya banyak dan harganya juga tinggi. Selain faktor desain nilai historis seperti tahun pembuatannya juga sangat memengaruhi harganya saat ini," ungkapnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kolonialisme Belanda #ISI Jogjakarta #desain interior #Motif #ornamen #Bufet #Style #Bufet Lawasan