Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Aktivitas Kicau Mania Kebumen, Tak Hanya Sekadar Kumpul tapi Jadi Ajang Adu Gengsi

Muhammad Hafied • Minggu, 18 Agustus 2024 | 18:00 WIB
TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI
TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI

 

RADAR JOGJA - Memelihara burung kicau sempat menjadi tren tersendiri bagi masyarakat Kebumen. Namun fenomena tersebut sekarang mulai bergeser. Dari awalnya hanya sekadar hobi, justru beralih menjadi ajang adu gengsi.


Kondisi ini terjadi seiring maraknya gelaran lomba burung kicau di berbagai wilayah. Bahkan, hampir setiap kecamatan kini sudah memiliki wadah atau perkumpulan khusus bagi para pecinta burung kicau. "Sekarang sudah merata. Ada yang inisiatif buat semacam paguyuban gitu," jelas Kicau Mania Kebumen, Budi Riyanto, Jumat (16/8).

TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI
TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI


Budi mengatakan, para pecinta burung kicau kerap berkumpul hanya untuk berdiskusi sembari menyalurkan hobi. Tak jarang, mereka juga kerap latihan bersama yang dikemas lewat lomba persahabatan. Agenda tersebut rutin dilaksanakan sebagai sarana silaturahmi antarpecinta burung kicau. "Gantangan burung biasanya bergilir. Pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kami ngopi bareng sambil bawa burung," ucapnya.


Menurut Budi, di kelompok pecinta burung tidak memandang status, usia, maupun jabatan. Semua memiliki kedudukan sama. Tak jarang pula kalangan pejabat juga ikut menjadi bagian kicau mania. "Tidak pandang itu siapa. Kadang orang top datang pakai kolor ikut lomba burung itu biasa," ungkapnya.


Budi menyebut, tren memelihara burung kicau semakin menggeliat sejak masa pandemi Covid-19. Dari sini kemudian muncul banyak komunitas pecinta burung. Di lain sisi, kondisi ini juga berdampak positif karena membuka peluang bisnis burung kicau. "Sekarang bukan bicara hobi lagi, larinya ke bisnis. Sudah adu gengsi lah. Kalau burung sering juara harganya melejit," sambungnya.

TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI
TERLATIH: Pecinta burung kicau asal Kelurahan Selang, Kebumen, Hudi Wasono kerap membawa pulang tropi kejuaraan kicau mania.DOKUMENTASI PRIBADI


Pecinta burung kicau Hudi Wasono, 40, mengaku, memelihara burung kicau sebenarnya memiliki prospek cukup menjanjikan jika ditekuni secara serius. Artinya bukan lagi sekadar bicara hobi, tapi sudah ada orientasi bisnis. Hal ini yang membuat dunia burung kicau tak pernah surut. "Orang hobi itu sudah tidak hitung-hitungan. Asal suka dan punya uang langsung beli," bebernya.


Hudi menjelaskan, pecinta burung kicau diklasifikasi sesuai burung yang dipelihara. Masyarakat umumnya memelihara burung kicau yang sering dijadikan ajang lomba. Seperti jenis murai, kacer, cucak hijau, lovebird, serta kenari.

Dari jenis burung tersebut yang paling bergengsi adalah murai dan cucak hijau. "Misal sudah kualitas super harga satu ekor bisa tembus puluhan juta. Apalagi sudah koleksi piala nasional. Wah, mau tanya harga aja takut," lontarnya. (fid/eno)

Editor : Satria Pradika
#kicau mania #kebumen #komunitas #lomba burung kicau #pecinta burung kicau