Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Balai KPH DIY Sebut Randu Alas Berstatus Langka dan Belum Punah, Narasi Pohon Wingit Cara Nenek Moyang Melindungi Kehidupan Pohon

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 11 Agustus 2024 | 15:00 WIB
Pohon randu alas
Pohon randu alas

RADAR JOGJA - Eksistensi pohon Randu Alas seiring perkembangan zaman mulai tergerus perlahan. Dulu masyarakat menilai pohon tersebut sebagai pohon wingit. Balai KPH (Kesatuan Pengelola Hutan) DIY menilai, narasi itu adalah cara nenek moyang melindungi pohon randu alas.


Kepala Balai KPH DIY Wawan Setiyo Tjahyono menyampaikan, secara resmi memang belum ada yang mengatakan pohon itu punah. Karena di beberapa wilayah di DIY seperti Sleman, Bantul, dan Gunungkidul masih bisa ditemukan. Namun sudah masuk dalam kategori dilindungi.

Kepala Balai KPH DIY Wawan Setiyo Tjahyono.
Kepala Balai KPH DIY Wawan Setiyo Tjahyono.


"Dulu sewaktu kecil saat berteduh di bawah pohon itu, hal yang tidak bisa lupa adalah suara buahnya ketika kering pletek-pletek," ujarnya saat ditemui di Kantor Balai KPH DIY, Jumat (26/7).
Pohon randu Alas akan dibudidayakan atau dilestarikan ketika status pohon tersebut sudah mencapai hampir punah. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menanam ke tempat-tempat yang cocok dan potensial untuk kehidupan pohon.


"Jangan sampai nanti randu alas punya cerita, punya kenangan tapi tinggal histori karena tumbuhannya tidak ada, tinggal gambar atau potongan kayunya di museum," tuturnya.


Masyarakat menilai pohon randu alas sebagai pohon yang magis dan banyak dihuni oleh mahkluk halus. Budaya itu turun temurun dari wejangan para nenek moyang atau leluhur terdahulu.

Sebagian umat Hindu juga mempercayai pohon tersebut sebagai pohon suci.
"Kami menilainya itu sebagai cara leluhur menjaga kelestarianya, untuk melindungi tanaman agar tidak dirusak atau asal tebang," tuturnya.


Dikatakan, pohon randu alas termasuk dalam spesies pohon langka. Hal itu karena pergeseran tren dan kebutuhan masyarakat. Awalnya pohon itu dimanfaatkan buahnya untuk membuat kasur dari kapuk. Namun sekarang berganti menjadi busa atau dacron.


Pergeseran itu menyebabkan pohon randu alas tidak lagi dibutuhkan oleh masyarakat. Pohon itu menjadi tidak diperhatikan karena dirasa minim manfaat. "Masyarakat cenderung akan menanam atau mempertahankan tanaman yang sekitanya masih dibutuhkan," jelasnya.


Menurutnya, randu alas memiliki jenis pohon yang tidak sulit ditanam dan berpotensi tinggi untuk dibudidayakan. Namun hingga saat ini persebaran tumbuhan itu selama ini diduga secara alami. "Gampang banget itu (dibudidayakan), karena kan ada bijinya dan tidak harus butuh banyak air," ungkapnya. (oso/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#nenek moyang #oldies #Pohon Wingit #Pohon Randu Alas