RADAR JOGJA - Banyak yang meyakini rambut adalah mahkota. Zaman dulu untuk menambah keanggunan, para perempuan sengaja memanjangkan rambut. Salah satu tujuannya agar bisa digelung dan dijadikan konde.
Warga Jogonalan, Tirtonirmolo, Bantul Dra Daruni mengetahui konde dari almarhumah ibundanya. Kala itu melihat sang ibu berada di depan kaca, mengenakan baju setelan Jawa. "Mendiang ibu rambutnya panjang. Digelung dan jadi konde," kata Daruni pada Jumat (19/7).
Dari situlah Daruni muda ikut-ikutan menggelung rambutnya. Hanya sayang, mahkotanya tipis sehingga volume gelungan kurang besar. "Lalu saya pakai cemara (rambut sambungan). Supaya volume gelungan menjadi sedikit besar dan enak dipandang," ucapnya.
Kata Daruni, membuat konde bisa dikerjakan sendiri. Kalau sudah terbiasa, waktu yang dibutuhkan untuk membuat konde tidak lebih dari 30 menit. "Di Jogja ada jenis gelung ukel tekuk," ucapnya.
Guleng ukel tekuk umum digunakan di lingkungan Karaton Ngayogyadiningrat. Mulai dari permaisuri, selir, para putri raja, dan para inang pengasuh (emban). "Kalau zaman dulu, rambut panjang asli sepinggang sudah bisa jadi konde," ujarnya.
Agar terlihat rapi dan kuat pada bagian gelungan ditutup dengan harnet dan ditusuk dengan sindik. Maka belakangan dikenal dengan sebutan tusuk konde.
"Agar rambut bisa kaku, kalau zaman dulu pakai lidah buaya. Sekarang pakai hair spray rambut. Maka jadilah konde berbentuk bulat," terangnya.
Pakai konde, kata dia, rambut panjang disunggar (disisir ke atas telinga kanan kiri). Kemudian rambut bagian tengah diambil dan ditarik ke bekang untuk mengingat rambut sebelum dikonde. "Kalau mau rambut model konde, persiapan dua kaca depan dan belakang biar leluasa," ungkapnya.
Di era sekarang pakai konde lebih simpel, karena hanya rambut pasangan. Namun saat ini pakai konde pasangan malah merepotkan bagi perempuan yang berambut panjang. "Karena harus dikucir, dibagi dua dan dikelabang baru dipasang gelung atau konde," terangnya.
Lebih Tampil Pede sebagai Orang Jawa
Berdandan mengenakan konde atau sanggul mungkin dianggap kuno bagi sebagian perempuan modern. Tapi tidak bagi Sukro Tusmawati, 55, warga Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kebumen. Ia justru lebih percaya diri jika tampil bersanggul ketika menghadiri acara formal maupun nonformal.
Sebagai orang Jawa, ia bangga dengan tradisi leluhur yang mengajarkan setia untuk mengenakan konde. Menurutnya, penggunaan konde tidak bisa diartikan sebagai kemunduran terhadap dunia fashion. Justru, kata Sukro, konde dapat menjadi identitas adiluhung bangsa. "Kalau saya pribadi PD (percaya diri) saja. Artis atau orang terkenal sekarang banyak yang suka pakai sanggul. Masa kita malah malu sih," ujarnya, Jumat (19/7).
Sukro mengatakan, sanggul atau konde bukan sekadar pernak-pernik fashion. Tapi punya makna mendalam bagi seorang perempuan. Sanggul menjadi simbol bentuk pengabdian istri kepada suami. Selain itu, penggunaan sanggul juga menunjukkan sosok perempuan yang mandiri. "Orang dulu bilang sanggul adalah identitas. Filosofinya dalam. Tidak usah risih kalau pakai sanggul," kata Sukro.
Menurutnya, dunia fashion memang kini tak terbendung. Termasuk variasi busana perempuan adat Jawa, yakni kebaya. Ia cukup heran jika melihat perempuan yang mengenakan kebaya tapi tanpa sanggul. Penampilan itu ibarat memasak tanpa garam. Ada sesuatu yang dianggap masih kurang lengkap. "Pakai kebaya saja itu tetap luwes.
Apalagi ditambah sanggul. Jawane pol-polan," ucapnya.
Sebagai seorang penata rias, Sukro pun selalu menawarkan calon pengantin untuk berdandan khas Jawa. Hal ini tak lain agar masyarakat bangga dengan adat dan budaya Jawa. "Di pernikahan ada pakem, apakah pakai sanggul bokor mengkurep atau bangunan tulak. Tinggal disesuaikan pas prosesi siraman," bebernya.
Sukro mengatakan, penggunaan konde memang terkesan merepotkan. Namun, jika sudah terbiasa baginya tak ada lagi istilah merepotkan. Ia percaya, setiap perempuan yang mengenakan konde akan terlihat jauh lebih anggun. "Tidak harus acara sakral, misal pas pernikahan baru pakai sanggul. Acara formal atau kumpul teman itu sah-sah saja," ungkap Sukro. (gun/fid/laz)