RADAR JOGJA - Keberadaan komunitas pecinta binatang reptil tak lagi asing di telinga. Namun tidak dengan Komunitas Exalos Indonesia. Meskipun berhubungan dengan reptil, kumpulan relawan ini fokus pada penyelamatan manusia dari serangan kelompok hewan vertebrata berdarah dingin.
Komunitas Exalos Indonesia terbentuk 2016 silam berpusat di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng). Kemudian pada 2021, komunitas tersebut juga dibentuk di Kabupaten Gunungkidul. Relawan akan melakukan penyelamatan dan serangan hewan reptil seperti ular dan biawak.
Tak jarang, mereka juga melematkan masyarakat dari serangan tawon. “Penanganan konflik antara manusia dan ular menjadi fokus utama dari para relawan,” sebut anggota Exalos Indonesia di Gunungkidul Aan Novianto Jumat (5/7).
Sebab bahaya dari serangan ular masih kurang diketahui oleh masyarakat. Relawan juga turut memberikan edukasi kepada masyarakat. Terkait penanganan saat diserang hewan reptil. “Penanganan yang salah akan membahayakan keselamatan manusia itu sendiri," ucapnya.
Komunitasnya, kata Aan, terbuka dengan laporan serangan reptil. Nantinya, akan ada tujuh orang yang diberangkatkan untuk penanganannya. Mengingat saat ini, anggotanya berjumlah 50 orang.
Setiap penanganan hewan, anggota akan dilengkapi dengan perlengkapan keamanan. "Kami biasa membawa tongkat dan alat pelindung diri setiap ke lapangan. Usai ular di evakuasi, kemudian kami rehabilitasi ke basecamp," ungkapnya.
Kemudian, pihaknya juga memastikan hewan yang direhabilitasi harus dalam kondisi sehat. Setelah itu, baru boleh dilepasliarkan jauh dari permukiman.
Aan menyebut, dalam seminggu dapat menangani 20 laporan. Dikatakannya, laporan terbanyak terdapat di Kapanewon Playen. "Selama kami menangani, tidak ada kendala seperti dipatok ular. Karena perlengkapan dan alat pelindung diri yang memadai," jelasnya.
Aan mengatakan, reptil yang paling sering ditemukan ialah ular kobra dan piton. Penanganan yang salah dapat menimbulkan risiko kematian akibat serangan hewan tersebut. "Jika dalam keadaan terdesak, ular mungkin bisa dimatikan. Tapi sebisa mungkin untuk melaporkan dulu ke pihak-pihak terkait yang profesional," imbaunya. (ndi/eno)
Editor : Satria Pradika