Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Budayawan Anom Sucondro Sebut Gangsingan Bluluk Ajarkan Filosofi yang Penuh Makna

Anom Bagaskoro • Minggu, 23 Juni 2024 | 14:00 WIB
Anom Sucondro.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
Anom Sucondro.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

 



RADAR JOGJA - Zaman merubah segalanya, dulu di kalangan masyarakat Jawa Gangsing Bluluk memiliki kenangan tersendiri. Namun, seiring perkembangan teknologi, gansing bluluk ditinggalkan. Beralih menjadi gangsing yang terbuat dari plastik dengan teknologi terkini. Padahal Gangsing Bluluk syarat memiliki makna serta filosofi.


"Tanda tresna wong tuwa, sekaligus memberikan pelajaran bagi anak," ucap Budayawan Jatimulyo Anom Sucondro, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (14/6).


Anom menjelaskan, gangsing bluluk merupakan simbol cinta orangtua kepada anaknya. Orangtua yang saat itu memiliki berbagai keterbatasan, tetap bisa mengabulkan keinginan anaknya. Keinginan anaknya yang ingin memainkan gangsing diwujudkan dengan adanya gangsing bluluk.


Namun, orangtua tak hanya memberikan gangsing bluluk ke anaknya cuma-cuma. Sang anak biasanya diminta untuk mencari bahannya sendiri. Disitulah unsur edukasi berada. Anak yang mencari bluluk biasanya mengumpulkan 10 buah bluluk, dan ketika diberikan ke orang tuanya, hanya terpilih 1 bluluk.


Orangtua mencoba mengajarkan, tak semua bahan bisa digunakan, dan mengajarkan anak untuk teliti. Saat merangkai gangsing, orangtua akan memperlihatkan teknik merangkai. Setelah itu anaknya lah yang akan membuat sendiri.


"Gangsing bluluk itu banyak filosofinya, dan sarat pesan terkandung," ucap Anom.


Anom menjelaskan, dalam pewayangan terdapat lakon "Gangsingan Pendawa". Dalam lakon tersebut gangsing diibaratkan sebagai benda yang tak bisa dimainkan semua orang. Sosok Bratasena, adalah satu-satunya tokoh yang mampu memainkannya. Di mana perlu kerjakeras dalam memainkan.


Gangsingan pendawa diwujudkan pada gangsing perunggu. Yang mana gangsing tersebut merupakan wujud dedikasi. Sedangkan bluluk mewujudkan kebermanfaatan dari segala aspek. Lantaran, bluluk merupakan bakal kelapa yang jatuh. Kendati belum siap digunakan, bluluk tetap bisa dipakai sebagai bahan permainan.


"Sekarang sudah berganti zaman, gansing sekarang sudah tak memiliki esensi," ucapnya.


Anom menjelaskan, gangsing bluluk merupakan kekayaan budaya intelektual. Seharusnya ada upaya dalam pelestarian. Tak hanya dikenang sebagai benda. Namun permainannya juga harus dilestarikan. Diharapkan agar generasi sekarang dapat membaca makna dan pesan terkandung. (gas)

Editor : Satria Pradika
#oldies #filosofi #bluluk #jawa