Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tidak Sekadar Nongkrong Menikmati Secangkir Kopi Luwak di Pawon Luwak Coffee, Wisman Tak Bisa Bahasa Inggris, Komunikasi dengan Bahasa Isyarat

Naila Nihayah • Minggu, 26 Mei 2024 | 17:00 WIB

WISATA EDUKASI: Pawon Luwak Coffee yang terletak di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur tidak hanya menawarkan sajian kopi, tapi juga edukasi pengolahan kopi.
WISATA EDUKASI: Pawon Luwak Coffee yang terletak di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur tidak hanya menawarkan sajian kopi, tapi juga edukasi pengolahan kopi.
 

RADAR JOGJA - Melancong ke Magelang, tidak hanya identik dengan mengunjungi Candi Borobudur. Tapi, pengunjung juga bisa berkunjung ke situs peninggalan sejarah maupun objek lain yang tidak kalah menarik. Di Candi Pawon, misalnya.


Candi tersebut letaknya di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur. Tidak jauh dari Candi Pawon, ada kedai dengan desain bangunan yang cukup sederhana. Setelah berkunjung ke Candi Pawon, pengunjung bisa singgah sejenak sembari menikmati secangkir kopi luwak.


Kedai itu diberi nama Pawon Luwak Coffee yang ternyata sudah ada sejak 11 Desember 2013 silam. Kendati bangunannya sederhana dan bernuansa Jawa, tapi banyak pengunjung yang tertarik untuk singgah dan menyeruput secangkir kopi luwak. Baik domestik maupun mancanegara.


Semula, pemilik kedai bernama Prana Aji masih gamang untuk membuka usaha tersebut. Saat itu, Candi Borobudur semakin banyak dikunjungi wisatawan. "Saya ingin menampilkan karya orang Indonesia asli. Mau (usaha) apa. Sementara di sini hanya ada suvenir, batik, dan semacamnya," katanya, Jumat (17/5).


Dia pun terus mencari peluang usaha yang tepat agar berkembang di kawasan Candi Borobudur. Karena Aji kerap nongkrong di warung kopi, terlintas dalam benaknya untuk membuat kedai kopi di kawasan wisata. Namun, dia ingin membuat warung kopi yang berbeda dengan lainnya.


Dia ingin mempertahankan originalitas dan tradisi ngopi yang sesungguhnya. Selain itu, dia juga lebih memilih untuk menjaga kualitas kopi luwak dengan sensasinya sendiri. "Sejak awal, saya sudah sediakan proses pembuatan kopi luwak dan mempertahankan lokalitas," bebernya.


Itu berarti, Aji juga memiliki beberapa binatang luwak, pohon kopi, mesin untuk roasting, dan lainnya. Ada dua jenis kopi yang disediakan, yakni arabika dan robusta. Saat ini, sudah ada enam ekor luwak yang dipelihara untuk menghasilkan biji kopi berkualitas.


Luwak itu, kata dia, diperolehnya dari Temanggung. Lalu, dikembangbiakkan hingga kini berjumlah enam ekor. Dia memilih untuk memelihara luwak karena hewan tersebut memiliki insting yang bagus untuk memilih biji kopi.


Hewan itu memang sangat selektif. Mereka hanya akan memakan biji kopi yang segar dari pohonnya. Dia juga lebih memilih biji kopi yang cenderung matang dan manis. Sehingga kualitas biji kopi di kedainya tidak diragukan lagi. Setelah biji kopi dimakan dan difermentasi di dalam perut, akan dikeluarkan oleh luwak melalui kotoran. Setelah keluar, kotoran tersebut dapat dikeringkan. Lalu, diolah, ditumbuk, baru disajikan.


Menurutnya, proses fermentasi biji kopi di perut luwak bisa mengurangi kadar kafein yang kerap meningkatkan kadar asam lambung bagi penikmatnya. Jadi, kopi luwak miliknya aman untuk orang yang mempunyai asam lambung. Untuk memelihara keenam luwak miliknya, Aji mengaku tidak ada kesulitan. Hewan tersebut cenderung mudah dipelihara. Untuk makanannya, lanjut Aji, bisa dengan menu apa saja. Seperti buah-buahan.


Tidak hanya di beri makan, luwak miliknya juga dimandikan dan diberi kandang satu per satu. Bahkan, kandangnya cukup bersih. "Jadi, pengunjung yang datang ke sini bukan hanya sekadar minum, tapi kami suguhkan cara mengolah, mengeringkan, bahkan luwaknya," ujarnya
Sejak dibuka hingga sekarang, lanjut Aji, sudah banyak pengunjung yang mampir ke kedainya. Sekadar untuk bersantai ataupun melihat proses pembuatan kopi secara langsung. Karena memang Pawon Luwak Coffee juga memberikan edukasi kepada pengunjung.


Bahkan, Aji sengaja merekrut karyawan yang harus menguasai bahasa Inggris. Supaya ketika ada wisatawan mancanegara, bisa dilayani dengan maksimal. Tapi, ada juga beberapa negara yang tidak bisa bahasa Inggris, seperti Tiongkok. Meski begitu, dia mengaku tidak kesulitan untuk berkomunikasi walaupun hanya menggunakan bahasa isyarat. Dalam sehari, rata-rata bisa terjual 50 cup.

Per cup dihargai Rp 25 ribu. Namun, Aji juga menyiapkan kopi bubuk untuk dibawa pulang wisatawan. "Jenis robusta Rp 250 ribu per pack dan arabika Rp 400 ribu per pack," sebutnya. (aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#pengolahan kopi #Borobudur #Candi Pawon #Magelang #Pawon Luwak Coffee