Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Potensi Gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Borobudur, Dulu Buat Cobek hingga Klenthing, Kini Jadi Suvenir

Naila Nihayah • Minggu, 26 Mei 2024 | 15:00 WIB

UNIK: Kepala Dusun Banjaran I/Klipoh, Desa Karanganyar, Borobudur Suparlan saat memperlihatkan aneka gerabah milik saudaranya. Di dusunnya memang banyak warga yang memproduksi gerabah.
UNIK: Kepala Dusun Banjaran I/Klipoh, Desa Karanganyar, Borobudur Suparlan saat memperlihatkan aneka gerabah milik saudaranya. Di dusunnya memang banyak warga yang memproduksi gerabah.
 

RADAR JOGJA - Kawasan Borobudur tak henti-hentinya menawarkan potensi yang melimpah. Baik destinasi wisata maupun kerajinan tangan. Terlebih, kawasan tersebut dekat dengan Candi Borobudur yang merupakan magnet bagi wisatawan untuk berbondong-bondong datang ke sana.


Salah satu desa yang saat ini mulai berdaya, yakni Desa Karanganyar. Desa dengan empat dusun itu memiliki potensi yang berbeda-beda. Seperti di Dusun Banjaran I atau yang lebih dikenal sebagai Dusun Klipoh. Menariknya, lebih dari 80 persen warga di dusun itu memiliki usaha gerabah.


Kepala Dusun Banjaran I/Klipoh, Karanganyar, Borobudur Suparlan menyebut, total ada 225 kepala keluarga (KK) di dusunnya. Dari jumlah itu, yang aktif memproduksi gerabah ada 180 KK atau sekitar 80 persen. "Sebagian melayani tamu kunjungan. Sebagian lagi melayani konsumen di luar daerah," ujarnya saat ditemui, Jumat (24/5).


Sebetulnya, gerabah menjadi mata pencaharian warga Dusun Klipoh sejak dahulu kala. Dulunya, seluruh warga memproduksi gerabah. Seiring berjalannya waktu, mereka lebih memilih berwirausaha di bidang lain. Sebab, penjualan gerabah memang tidak secepat olahan makanan. Butuh waktu yang cukup lama agar gerabahnya benar-benar terjual habis. "Paling nunggu satu minggu baru jadi duit. Makanya mereka beralih (usaha) yang bisa dinikmati (hasilnya) secara langsung," bebernya.


Kendati begitu, masih banyak warga yang mempertahankan peninggalan leluhur mereka. Gerabah yang dibuat pun saat itu masih sebatas cobek, kuali, klenthing, dan lain-lain. Eksistensi gerabah semakin dikenal seiring Candi Borobudur ditetapkan sebagai DPSP. Semula memang hanya segelintir wisatawan yang datang ke Dusun Klipoh untuk melihat gerabah. Sekitar lima tahun lalu, dusun itu mulai dikenal.


Potensi gerabah di Dusun Klipoh semakin moncer. Warga pun kerap mendapat pendampingan, baik dari Pemkab Magelang, instansi, maupun swasta. Agar mereka turut mempertahankan warisan leluhur itu dan membuka workshop di rumah masing-masing.


Suparlan menyebut, setiap hari, pasti selalu ada wisatawan yang mampir ke dusunnya. Mereka rata-rata rombongan dan menaiki mobil VW. "Apalagi kalau weekend, selalu ramai. Mobil VW banyak yang bawa rombongan," ungkapnya.


Biasanya, lanjut dia, wisatawan akan mendapat pengalaman berharga dengan mengikuti proses pembuatan gerabah. Terlebih, model gerabah saat ini berbeda dengan dulu. Sekarang lebih kecil, mudah dibawa, dan cocok untuk dijadikan suvenir.


Wisatawan akan diminta praktik membuat gerabah. Lantas, dari hasil praktiknya, mereka dapat membawanya pulang dengan merogoh kocek tertentu. Atau memilih gerabah lain untuk dibawa pulang. Sebab, gerabah itu harus melalui tahap pengeringan terlebih dahulu.


Suparlan berharap, Dusun Klipoh akan semakin eksis dengan potensi pembuatan gerabah yang ditawarkan. Dengan begitu, dapar mengangkat perekonomian warga. "Banyak pengunjung, penjual kelontong juga banyak. Sedikit banyak sudah mulai mengangkat perekonomian warga," katanya. (aya/pra)

Editor : Satria Pradika
#Desa Karanganyar #Candi Borobudur #Borobudur #gerabah #DPSP #kepala keluarga #potensi wisata