RADAR JOGJA - Salah seorang pembuat kursi pentil asal Bantul, Niken Indriastutik menyatakan, kursi pentil walaupun terbilang barang lawasan, sampai saat ini keberadaannya masih eksis. Kursi ini banyak diminati oleh masyarakat.
Menurut Niken, saat ini banyak orang-orang yang mulai menyukai model-model barang "tempo doeloe". Sehingga kini kursi pentil itu tidak pernah mati pasarannya.
"Di Jogja sendiri kurang lebih sejak Covid-19 baru mulai muncul banyak orang pengemar vintage lawasan," ujarnya saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jalan Madukismo, Bantul, Jumat (10/5).
Niken mengungkapkan, dulu yang punya kursi pentil adalah orang-orang kaya. Dan itu sampai saat ini pun juga demikian. Sebab dilihat dari pembelinya saja orang-orang menengah ke atas.
Seperti orang-orang yang sedang membangun kafe atau restoran. Karena mereka memakai konsep vintage atau mengangkat tempo dulu. "Sekarang di Jogja kan juga banyak kafe atau restoran yang seperti itu," katanya.
Proses pembuatan kursi pentil sendiri tidaklah susah. Hanya seperti orang menganyam rotan saja. Cuma ketika membuat harus telaten dan sabar.
"Ya, sebenarnya ribet itu tidak. Kalau sudah terbiasa itu ya tidak. Kalau belum terbiasa memang kadang orang bilangnya ribet," ungkap Niken.
Untuk bahannya, kursi pentil sendiri terbuat dari kerangka besi dan memakai bahan pentil khusus sebagai tempat duduk dan bersandarnya. Dari segi keawetan, kursi pentil terbilang sangat awet dan tahan cuaca apapun. "Cuman nanti warnanya kusam. Tapi tetap pada senang karena terkesan lawas," ujarnya.
Pemilik Gallery Rissa Vintage ini juga mengaku untuk penjualan harga kursi pentil satu setnya (kursi empat dan meja satu) dipatok Rp 2,2 juta. Namun kalau ada yang beli secara eceran juga bisa dengan harga Rp 500 ribu per kursi.
"Kalau begini hand made ya. Jadi tidak bisa diburu-buru. Tapi itu tergantung dengan pesanan. Kalau misal hanya satu set, paling satu minggu sudah selesai," tuturnya.
Sebagai pembuat kursi pentil, Niken berharap barang-barang antik seperti kursi pentil itu ada yang mewadahi seperti UMKM. Sebab, selama ini banyak penjual yang mengeluh karena selama ini tidak ada wadah UMKM yang mendukung kursi pentil.
Baca Juga: Kafe di Jepang Ini Memiliki Konsep Unik. Melarang Karyawan dan Pelanggannya Untuk Berbicara
"Ya, karena ini juga salah satu mata pencaharian saya. Maka ya kursi seperti ini bisa diterima masyarakat dan terus dicari oleh masyarakat," tandasnya. (ayu/laz)