RADAR JOGJA - Momen jadul beserta barang-barang lawas di dalamnya, biasanya dapat membangkitkan memori lama. Seperti halnya sebuah kursi jadul dengan desain unik yakni kursi karet pentil.
Kursi ini memiliki alas dan sandaran yang tak biasa. Bagi generasi 1990-an atau sebelumnya, kemungkinan besar cukup familiar dengan kursi ini. Mengingat, mereka pernah melihat atau merasakan duduk di kursi ini di waktu kecil.
Kursi pentil memiliki alas yang terbuat dari anyaman karet pentil dengan warna berbeda. Tidak hanya di bagian alas saja, sandarannya pun juga terbuat dari bahan yang sama. Kursi ini pernah nge-tren di medio 1990-an hingga setidaknya awal 2000-an.
Salah seorang mantan pemakai kursi pentil Hani Lestari menyampaikan, dirinya menggunakan kursi itu mulai kisaran tahun 1970-an. Dia mengaku kursi itu sudah ada di rumahnya sejak dia kecil. Hanya saja ia sudah tidak memakai kursi tersebut sejak sekitar 2010.
Hani bercerita, sempat ada empat kursi pentil single di rumahnya. Keempat kursi tersebut pentilnya berwarna oren dengan besi warna putih mengitari di bagian pinggirnya. Untuk mejanya, memiliki meja kayu setinggi sekitar 45 centimeter sebagai pasangannya. Menurutnya, kursi itu nyaman digunakan. "Enak dipakainya dan juga nyaman," katanya, Jumat (10/5).
Selain itu, kursi pentil tersebut minim perawatan. Dia mengaku seminggu sekali hanya mengelap kursi pentil tersebut menggunakan kain lap dan air bersih. "Kursi pentil ini cukup awet," ujar warga Kelurahan Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Jogja, ini.
Meski begitu, Hani mengaku sudah tidak memiliki kursi tersebut. Lantaran sudah dijual karena rusak dan digantikan dengan kursi kayu. "Mau cari lagi kursi pentil, sudah sulit. Enggak banyak yang jual," ungkap perempuan 52 tahun ini.
Hani pun mengaku banyak anggota keluarganya yang sesekali membicarakan mengenai kursi pentil itu setiap kali berkunjung ke rumahnya. Menurutnya, kursi pentil cukup bersejarah lantaran kursi tersebut lama digunakan oleh keluarganya.
Mantan pengguna yang lain, Risdiyanto, mengakui dirinya sempat memiliki kursi itu di tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Menurutnya, kursi pentil miliknya dahulu sempat rusak. Lantaran beberapa karet pada bagian sandaran atau dudukan hilang. “Karena faktor umur, sama mungkin sudah terlalu sering dipakai,” ucapnya.
Warga Kelurahan Wirogunan, Mergangsan, Kota Jogja ini menyebut, kursi miliknya dulu berwarna pelangi pada karet pentilnya. Dia memiliki dua kursi itu di rumahnya. Keduanya diletakkan di teras rumah. “Karena menurut saya kursi model begitu cocoknya ditaruh di teras. Buat nyantai, agak nggak elok kalau ruang tamu pakai yang mode begitu,” katanya.
Risdiyanto mengatakan, setelah kursi itu rusak, dirinya sudah tidak lagi menggunakan kursi model tersebut. Kursi di teras rumahnya kini diganti dengan kursi kayu setengah lingkaran dengan bantal yang menutupi alasnya. “Habis rusak terus diloak, waktu itu laku Rp 200 ribu satu kursinya,” ungkapnya.
Pria 58 tahun ini menyadari bahwa kursi tersebut memang sempat populer pada masanya. Yakni di medio 1990-an hingga setidaknya awal 2000-an. Dia dan keluarganya juga sempat terpikir untuk menggunakan lagi kursi tersebut di rumahnya.
Sebab menurutnya, saat ini cukup banyak yang menjual kursi pentil melalui e-commerce. Harganya pun masih dirasa ramah kantong. “Mungkin kalau kepengen banget besok beli kursi itu lagi. Soalnya itu sudah jadi barang klangenan kan, vintage,” katanya. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika