Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melalui Buku PSPB, Siswa Ditanamkan Pahami Karakter Tokoh dan Pahlawan Kemerdekaan Indonesia

Andi May • Minggu, 21 April 2024 | 15:00 WIB
Dyah Nawangulan Guru Sejarah SMAN 2 Wonosari.
Dyah Nawangulan Guru Sejarah SMAN 2 Wonosari.

RADAR JOGJA - Generasi milenial sampai Z mungkin asing mendengar tentang mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Mata pelajaran yang memuat pendidikan dan nilai-nilai kepahlawanan dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia itu, kini telah dihilangkan dari kurikulum saat ini.


PSPB lahir dari kurikulum 1984 atau pada masa Orde Baru. Nilai-nilai dan semangat para pejuang kemerdekaan menjadi pengetahuan wajib diajarkan ke peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA) pada saat itu.


Guru sejarah SMAN 2 Wonosari Dyah Nawangwulan mengatakan, meski PSPB tidak masuk dalam mata pelajaran di kurikulum saat ini, pendidikan dan pengetahuan tentang PSPB digabung dalam mata pelajaran sejarah.


"Mulai dari masa penjajahan, tokoh-tokoh perjuangan, masa reformasi telah digabung dalam mata pelajaran sejarah. Meskipun mata pelajaran PSPB telah dihilangkan, poin-poin penting tetap diajarkan ke peserta didik," ujarnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (19/4).


Menurutnya, pengetahuan terhadap perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia penting untuk diketahui generasi muda saat ini. Mulai dari asal-usul dan perjuangan bangsa demi mengetahui jati diri dari bangsa itu sendiri.


"Hidup bangsa itu merupakan gabungan dari beberapa peristiwa. Jika ada yang hilang, maka akan kehilangan identitas diri sebagai bangsa itu sendiri," ucapnya.


Pada buku PSPB, Dyah menjelaskan memuat tentang peran tokoh-tokoh kemerdekaan seperti riwayat, karakteristik dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengambil contoh peran dari Sultan Hamengku Buwono IX yang mengikhlaskan daerah yang dipimpinnya saat itu menjadi bagian dari Republik Indonesia. "Menyerahkan dirinya kepada Negara Indonesia demi persatuan dan kesatuan, nilai keikhlasan beliau saat itu sangat tinggi," ucapnya.


Kemudian Dyah bercerita, Sultan HB IX juga bertanggung jawab menampung dua ribu orang saat Ibukota Negara dipindahkan dari Jakarta ke Jogjakarta.

"Bahkan saat itu beliau harus menggaji dan memberikan tempat tinggal untuk rakyat Indonesia dengan harta kerajaan yang dipunyai," ungkapnya.


Nilai-nilai yang dipetik dalam salah satu tokoh pahlawan itu yakni nilai perjuangan, keteguhan dan keikhlasan untuk bangsa Republik Indonesia. Dan perlu ditanamkan ke peserta didik saat ini.


"Untuk itu, nilai yang harus ditanamkan kepada peserta didik saat ini yakni religius, karakter dan kualitas secara intelektual dari sosok pejuang tanah air," ungkapnya.


Mata pelajaran PSPB saat itu, mampu membuat peserta didik memahami akan karakter pahlawan, keberanian melawan penjajah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan mental kedisiplinan serta kejujuran yang menginspirasi para peserta didik. (cr6/laz)

Editor : Satria Pradika
#pahlawan kemerdekaan indonesia #Pahlawan Kemerdekaan #Buku PSPB