Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kalurahan Gotakan Berdaya melalui Industri Rumahan Bawang Merah

Anom Bagaskoro • Minggu, 24 Maret 2024 | 14:00 WIB
Proses pembuatan bawang merah goreng di industri rumahan milik Randi.
Proses pembuatan bawang merah goreng di industri rumahan milik Randi.

 

RADAR JOGJA - Bumi Binangun selalu dikenal sebagai wilayah penghasil umbi lapis Allium atau akrab disebut bawang merah.

Daerah Kalurahan Gotakan, Panjatan, Kulon Progo tak hanya sebagai penghasil bawang merah, tetapi juga penghasil produk olahan umbi ini.

"Berawal dari tradisi menanam bawang lokal di masyarakat kami," ucap Lurah Gotakan Redy Hartanto, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (22/3).


Menanam bawang merah sudah menjadi budaya di masyarakatnya. Ia menjelaskan sistem tanah surjan dikenal sejak dahulu kala untuk menanam bawang merah.

Tanah surjan merupakan sistem penanaman dengan meninggikan bagian tanah untuk ditanami tanaman bawang ataupun yang lain. Sedangkan bagian yang elevasinya rendah ditanami padi yang membutuhkan air terendam.


Bahkan karena sudah cukup lama budaya tanam bawang ini. Daerah ini memiliki bawang varietas lokal yang telah diteliti BRIN. Karena memiliki keunggulan dibanding baeang lainnya. Keunggulan berada pada rasa bawang yang pedas.


Menurut Redy, sekitar 300 warganya bergantung hidup pada pertanian bawang merah. Kemudian karena beberapa faktor seperti menjamurnya bawang merah impor di pasaran.

Membuat petani tak mampu bersaing dengan produk lokal bawangnya. Akhirnya, sebagian besar petani di wilayah tersebut memutuskan untuk mengolah panenannya."Diolah untuk meningkatkan nilai jualnya, sehingga panen tidak sia-sia," ucap Redy.

Randi dan bawang merah miliknya yang mampu menghidupi keluarganya. (Anom Bagaskoro)
Randi dan bawang merah miliknya yang mampu menghidupi keluarganya. (Anom Bagaskoro)


Redy mengutarakan, upaya warga dalam mengolah bawang merah berbuah manis. Bawang merah yang hanya digunakan sebagai bumbu kini berubah menjadi barang siap pakai untuk masakan ataupun camilan. Masyarakat mengolah bawang merah menjadi bawang merah goreng.


Terdengar sepele bila dilihat dari produk olahannya, yang mayoritas bisa dibuat dirumah sendiri. Namun, produk olahan ini mampu merajai pasar lokal dan bahkan daerah di luar DIY.

Terhitung sejak saat itu, bermunculan industri rumahan yang mengolah bawang merah."Kalau di DIY itu seringkali dipasarkan, dan sekarang merambah di Jawa Timur dan Jawa Tengah," ucap Redy.


Pemasaran produk bawang merah goreng perlu didorong oleh pihak desa. Sejak tiga tahun terakhir pihaknya gencar mempromosikan dan memasarkan produk olahan.

Penggunaan wadah Desa Prima juga terus digencarkan untuk merambah pasar hingga seluruh Indonesia.
Desa Prima juga menutun industri rumahan untuk berinovasi dalam pengembangan produk olahan pertanian.

Kini tengah mengkaji produk olahan berupa sambal dalam bentuk botol yang telah dipasarkan di wilayah Jawa Timur.
Menurutnya kini industri rumahan pengelohan bawang merah semakin banyak berkembang.

Terdapat sekitar 40 pengusaha yang mengolah bawang merah menjadi produk olahan. Ia berharap dengan bawang merah bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.


Randi Sutrisno, salah seorang petani bawang yang sudah menekuni pekerjaan ini sejak masih anak-anak, menjelaskan dirinya cukup mengenal budaya tani bawang merah di Gotakan.

Menurutnya menanam bawang merah sudah mengakar di daerahnya. Sehingga sangat sulit ditinggalkan."Saya sudah berusia 70 tahun, dulu sejak kecil sudah diajari orangtua untuk bertanam bawang," ucap Randi.


Orangtuanya mewarisi pengetahuan bercocok tanam bawang merah ke dirinya. Ia punnjuga begitu. Anaknya kini juga meneruskan cocok tanam bawang merah.

Bahkan Randi dan anaknya mulai mengembangkan bisnis olahan bawang merah sejak 2005. Dan menjadi besar hingga mulai dipasarkan sejak 2015.


Menurutnya usaha rumahan ini menghasilkan banyak pundi-pundi uang. Bahkan industri rumahan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Ada sekitar 40 orang yang bekerja di industri milik Randi yang bernama Bawang Goreng Makmur.


Laksmini salah satu pekerja menjelaskan, dirinya sudah dari awal membantu produksi bawang goreng milik Randi. Laksmi menjelaskan, ada beberapa tahapan sebelum bawang di masukkan ke penggorengan. Tahap pertama pemilahan dan pengupasan. Tahap kedua, pengirisan dan pencucian sekaligus penirisan.


Dilanjutkan dengan pencamuran tepung maizena, kemudian digoreng dalam minyak panas. Setelah itu bawang goreng ditiriskan dan didinginkan. Kemudian i masukkan kedalam mesin pengering untuk mengangkat minyak.

Setelah itu, bawang goreng dimasukkan wadah dan diberi label, serta siap dipasarkan. "Untuk satu kg bawang goreng jadi, membutuhkan empat kg bawang mentah," ucap Laksmini.


Laksmini menjelaskan, produknya akan dipasarkan ke beberapa daerah. Dengan harga yang menyesuaikan pada haraga bang merah mentah. Namun, apabila dirata-rata, harga perkilo bawang goreng dibandrol dengan harga Rp 120 ribu. (cr7/pra)

 

 

Editor : Satria Pradika
#Kulon Progo #Bumi Binangun #DIY #bawang merah