RADAR JOGJA - Aroma semerbak aroma jamu langsung terasa begitu kita melewati gapura selamat datang di Dusun Kiringan, Jetis, Bantul. Pamflet-pamflet terpasang di beberapa rumah menunjukkan menjual jamu. Ya, desa ini memang dikenal sebagai sentra pembuatan jamu sejak puluhan tahun silam. Saat ini ada ratusan warganya yang menjadi pembuat ramuan jamu tradisional.
Jamu yang dijual dan diproduksi warga beraneka macam, mulai dari jamu beras kencur, jamur kunir asem, dan lain masih banyak lagi. Ketua Desa Wisata Kiringan Sutrisno membeberkan, cerita awal mula daerahnya jadi sentra jamu. Menurutnya, semua bermula pada 1950 lalu ada seorang warga yang bernama Mbah Joparto memulai pertama kali. Awalnya, merupakan seorang buruh batik di Jogja. Namun, beralih profesi menjadi seorang tukang jamu.
Peralihan profesi Mbah Joparto menjadi seorang peramu jamu ketika bertemu seorang abdi dalem Keraton Jogja. Namun, hingga saat ini sosok tersebut tidak diketahui para warga di Kiringan. Bahkan, namanya sekalipun tidak mengenal. "Sosok abdi dalem itu yang mengajarkan dan menyarankan Mbah Joparto beralih menjadi penjual jamu," ujar Sutrisno saat ditemui di rumahnya, Jumat (13/10).
Dari situlah semua bermula Kiringan menjadi terkenal dengan jamu buatannya. Seiring berjalannya waktu, sejumlah tetangga Mbah Joparto ikut menjadi penjual jamu. Namun, tentunya diajari terlebih dahulu proses pembuatannya. Lambat laun, semakin banyak warga Kiringan yang berminat menjadi penjual jamu. Sekarang, sudah ada 132 perajin jamu di Kiringan. Mayoritas masih melakukan penjualan dengan cara berkeliling. "Tidak ada yang rebutan pasar," tambah Sutrisno.
Di pedukuhan ini juga dibuat sebuah tugu jamu gendong yang tidak jauh dari gapura selamat datang. Tugu jamu gendong ini menjadi ciri khas ketika tamu dari manapun datang ke Kiringan langsung melihat tugu itu. Sutrisno sendiri juga merupakan seorang penjual jamu. Namun, dia menjual jamu mayoritas secara online.
Saat ditemui di rumahnya, banyak produk olahan jamu terpajang di sejumlah etalase. Uniknya, Sutrisno sekarang sudah tidak hanya fokus pada produk olahan jamu. Tetapi, dia kembangkan untuk selai, es krim, dan lain sebagainya. Selain itu, ada sejumlah mahasiswa yang magang di rumahnya untuk mengemas jamu. Menurutnya, seluruh jamu yang dibuat bahan bakunya dari tanaman.
Sutrisno mengungkapkan, jika memang belum ada surat keputusannya. Tetapi, Kiringan sudah ditetapkan sebagai sentra pembuatan jamu. Menurutnya, tidak sedikit wisatawan dalam negeri dan luar datang ke Kiringan. Utamanya untuk wisata edukasi belajar membuat jamu. "Kami kadang meminta bantuan transliterasi untuk komunikasi dengan wisawatan luar negeri," tuturnya.
Pria 64 tahun itu menyampaikannya, sekarang jamu dari Kiringan sudah didaftarkan ke Unesco. Jika sudah diterima jamu Kiringan akan diakui dunia sehingga lebih muda untuk ekspor. Menurutnya, uang yang masuk ke Kiringan omzetnya per hari Rp 31,7 juta dari seluruh penjual jamu. Sehingga sangat menunjang perekonomian warga mayoritasnya. Namun, tidak seluruhnya memang menjadi penjual jamu. (rul/din).