Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jual Sega Gurih saat Sekaten, Yuni Bisa Jual 100 Porsi Per Hari

Annissa Alfi Karin • Minggu, 1 Oktober 2023 | 14:10 WIB
Photo
Photo

 

RADAR JOGJA - Sega atau sego gurih selalu hadir dalam masa sekaten. Saat Keraton Jogjakarta menggelar Garebeg Mulud sebagai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, keberadaan sego gurih banyak dijumpai di sekitaran Masjid Gedhe Kauman.


Ya, selain endog abang, sego gurih menjadi makanan khas yang erat kaitannya dengan momentum sekaten. Ini turut dimanfaatkan sebagai momen ngalap berkah atau mencari berkah bagi para penjual sego gurih dengan menjajakan dagangannya.


Salah seorang pedagang sego gurih yang turut menjajakan dagangan saat momentum sekaten kemarin adalah Yuni Amperawati, 56. Sejak 1995 hingga saat ini dia khusus menjual sego gurih saat acara sekatenan.


Biasanya dia menjual sego gurih selama tujuh hari sebelum hingga dimulainya Garebeg Mulud. Sego gurih biasanya menjadi teman masyarakat sembari mendengarkan alunan gamelan Keraton Jogja yang ditabuh.


"Pertama para pengunjung itu mendengarkan gamelan dulu. Setelah itu mampir beli sego gurih. Setelah beli nasi gurih, beli inang, habis itu beli telur merah," jelas Yuni saat ditemui di kediamannya, Kampung Kauman RT 39 RW 11, Kota Jogja (29/9).

Photo
Photo


Dalam satu porsi sego gurih berisi nasi, kacang, kedelai, tempe, dan kacang tolo. Ada juga rese atau udang kering, bumbu pecel, dan abon. Dilengkapi juga dengan srundeng, timun, kobis, lalapan, serta rambak.
Soal harga, ia melayani sesuai permintaan pembeli, mulai Rp 10 ribu untuk satu porsi tanpa telur. Sementara jika pakai telur, per porsi dibanderol Rp 15 ribu. Ditanya soal omzet, dia mengaku tak merinci secara detail. "Satu hari bisa lebih 50 porsi, kira-kira 100-an porsi," ungkapnya.


Yuni tidak sendirian. Dia ditemani sang suami dan satu karyawannya. Persiapan dilakukan sejak pukul 06.00 di sekitaran Masjid Gedhe Kauman. Dimulai dengan memasak nasi gurih yang masih diproses dengan cara tradisional.


Sementara pada pukul 09.00, dagangannya telah ludes terjual. Suami Yuni, Hilman Widodo, 60, menjelaskan pada tahun 1970-an penjual sego gurih di sekitar Masjid Gedhe hanyalah warga sekitar Kampung Kauman. "Lalu gethok tular, dari Bantul, dari Wonosari ke mari," kata Hilman yang juga ketua RT 39 ini. (isa/laz)

Editor : Satria Pradika
#Garebeg Mulud #keraton jogjakarta #Masjid Gedhe Kauman