RADAR JOGJA - Cantik dan berbakat sepertinya melekat pada sosok Yesadfona Marchdila. Fona sapaan akrabnya, merupakan Diajeng Berbakat Gunungkidul 2019 dan Penyandang Juara Harapan 1 Diajeng DIJ 2021.
Selain aktif sebagai duta pariwisata, perempuan asal Bumi Handayani ini juga menekuni bidang produksi video musik dan kesenian tradisional.
Fona menceritakan, sejak masih duduk di bangku SMP dirinya memang punya ketertarikan tersendiri terhadap dunia Dimas Diajeng. Sehingga ia memilih untuk ikut dalam pemilihan duta pariwisata itu setelah lulus SMA. Fona pun terpilih sebagai Diajeng Berbakat Gunungkidul empat tahun lalu.
Terpilih menjadi seorang Diajeng, diakuinya memang memiliki banyak manfaat. Fona mengaku, bisa mengembangkan potensi diri dan mendapatkan banyak relasi melalui ajang tersebut. Bahkan bisa juga menyalurkan minatnya terhadap bidang produksi video dan kesenian tradisional.
"Ajang Dimas Diajeng menjadi tempat saya untuk belajar banyak hal, kemudian tempat mencari jejaring, kesempatan dan ilmu. Serta membuat saya dekat dengan dunia entertain seperti film dan sebagainya," ujar perempuan yang kini menempuh pendidikan S1 Program Studi Sejarah di salah satu kampus swasta di Jogja ini kepada Radar Jogja Jumat (25/8).
Di samping aktif sebagai duta pariwisata, Fona juga menekuni berbagai bidang. Di antaranya sebagai founder & planner Tanah Project, yang merupakan rumah produksi tempat membuat video-video musik. Kemudian juga founder dan leader grup tari tradisional-modern di Jogjakarta bernama Jambesinegar.
Selain itu, sampai sekarang Fona juga menekuni bidang penyutradaraan ketoprak. Ia aktif bekerjasama dengan para pelaku seni ketoprak di kapanewon Karangmojo dan turut serta dalam Festival Kethoprak Gunungkidul. Melalui kegiatan tersebut, dia berharap kesenian ketoprak bisa terus beregenerasi tanpa henti.
"Saat ini saya juga terus mengembangkan keterampilan bidang keaktoran, tari, dan public speaking. Yakni dengan menjadi freelancer di dunia entertainment seperti cast film, host, MC, model, dan content creator," kata Fona. (inu/bah)
Editor : Heru Pratomo