Mantan nasabah di Kalurahan Patuk Ngatemi mengakui, ia sejak lima tahun terkahir tidak melihat lagi adanya mindring di kampungnya. Padahal dulunya sering wira-wiri. Membeli berbagai barang dengan sistem cicilan yang ditawarkan dirasa jauh lebih ringan dibandingkan membeli secara tunai. Hanya diakui, harga barang naik dua kali lipat jika disandingkan dengan pembelian kontan.
“Kami maklum kalau harga naik. Dulu jasa mindring jalan kaki dengan pikulan di pundak menawarkan barang. Bayangkan saja, jalan kaki keliling kampung memikul beban, bagaimana beratnya,” kata Ngatemi saat ditemui Radar Jogja (10/12).
Bagaimana tidak populer, dengan adanya mindring pembeli tidak harus menyediakan uang sejumlah harga barang, melainkan melakukan pencicilan dalam kurun waktu tertentu. Belum lagi calon nasabah tidak perlu menyiapkan DP atau uang muka untuk bisa memiliki barang yang diinginkan.
Cukup menunjuk dengan jari, bahkan ada keleluasaan pesan barang. “Beda dengan sekarang, harus menunjukkan identitas baru bisa kridit (kredit, Red). Dulu tidak ada seperti itu, hanya saling percaya,” ucapnya.
Menurutnya, petani di pedesaan umumnya mengandalkan mindring untuk mencukupi kebutuhan perabotan rumah dan juga pakaian. Membeli berbagai barang dengan sistem cicilan seperti ini dirasa jauh lebih ringan dibanding membeli secara tunai. Dalam sepekan sekali jasa mindring datang melakukan penagihan dengan nominal angsuran yang telah disepakati bersama.
“Kalau kebetulan saya pas tidak punya duit sama sekali, dia tidak marah, apa lagi sampai mengumpat dengan kata-kata kasar. Paling hanya ngguyu (tersenyum) dan berharap minggu berikutnya tidak absen,” ungkapnya.
Kalau sudah sedemikian baiknya, secara otomatis umumnya nasabah merasa tidak enak. Lebih-lebih namanya utang tetap harus dibayar. Sebisa mungkin ketika didatangi tetap bisa menyediakan uang angsuran. Berapa pun nominalnya, tetap diterima. Akan tetapi setelah melalui negosiasi disepakati, penunggak angsuran tidak bisa ambil barang lagi sebelum lancar pembayaran.
“Saya pernah nunggak angsuran juga. Harus tahu diri. Sudah diberi kemudahan, apa tega kalau utang lagi. Utang lama saja tidak lancar,” ucapnya mengenang sejarah bersinggungan dengan mindring.
Sementara itu, Jarwanto, anak Bu Ngatemi angkat bicara. Di masa kecil pernah ketiban 'apes'. Bundanya tak ada di rumah ketika si mindring datang mengetuk pintu. Dengan santainya menjawab 'tidak tahu'. “Seingat saya mindring orangnya sangat baik, tidak pemarah. Kalau datang justru riuh, karena ibu rumah tangga datang mengerumuni,” katanya
Sementara itu, kehadiran mindring untuk berbagai kebutuhan barang rumah tangga seringkali dipandang sebelah mata. Salah satunya, karena sistem pembayarannya berupa kredit dengan jumlah keuntungan atau bunga yang cukup besar.
Meski terkadang mindring memiliki konotasi negatif, kehadirannya bagi sebagian orang ternyata cukup membantu. Khususnya bagi masyarkat yang memiliki keterbatasan ekonomi namun ingin mencukupi berbagai kebutuhan rumah tangganya.
Salah satu orang yang cukup terbantu dengan kehadiran mindring adalah SPR, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kalurahan Pakuncen, Wirobrajan, Kota Jogja. Wanita paruh baya yang punya dua anak ini mengaku cukup terbantu dengan mindring atau penyedia jasa kredit untuk berbagai barang kebutuhan rumah itu.
Dikatakan SPR, alasan ia terbantu dengan kehadiran mindring karena sistem pembayarannya yang bisa diangsur dalam jangka waktu tertentu. Karena dengan sistem itu, ia tetap bisa memiliki barang kebutuhan rumah tangga meski di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi.
SPR mengakui, barang-barang yang ditawarkan mindring juga terkadang penting atau bisa dikatakan pokok bagi keberlangsungan rumah tangganya. Di antaranya peralatan masak, peralatan tidur, pakaian, serta barang-barang elektronik.
“Bisa dikatakan saya cukup terbantu dengan kehadiran mindring, karena mereka cenderung datang langsung ke rumah dan menawarkan barang kebutuhan rumah tangga. Apalagi bisa diangsur, jadi tidak berat-berat amat bayarnya,” ujar SPR kepada Radar Jogja (10/12).
Meski terbantu, SPR mengakui terkadang mindring juga ada sisi buruknya. Yakni dalam hal pengambilan keuntungan atau bunga yang terlalu besar dalam barang jualannya.
Dikatakan, dibandingkan dari harga barang yang dibeli secara kredit dari mindring dengan barang di toko yang dibeli kontan, selisihnya terhitung besar. Contohnya untuk barang panci, jika dibeli secara lunas dari toko harganya berkisar Rp. 30 ribu. Namun jika dicicil melalui mindring secara harian dengan jangka waktu sebulan, harganya bisa menyentuh Rp. 50 ribu-Rp 60 ribu. “Kadang harganya bisa lebih mahal lagi, karena ada mindring yang memberi denda apabila telat membayar,” katanya.
Namun di balik itu semua, SPR mengakui kehadiran mindring sangat dibutuhkan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Sebab, apabila membeli barang secara lunas tentu akan terbebani dengan pembayaran sejumlah uang yang cukup besar.
Hal tentu berbeda dengan sistem cicil yang ditawarkan mindring. Di mana pembelinya bisa membayar dengan besaran uang yang lebih sedikit namun intens, serta bisa disesuaikan kemampuan keuangan masing-masing individu. “Meski bunganya besar, mindring bisa dikatakan sangat membantu lah,” kata SPR. (gun/inu) Editor : Editor Content