RADAR JOGJA - Sosok-sosok gaib lain di Merapi dipercaya sebagai makhluk halus sejak awal, namun Kyai Sapu Jagad justru punya asal-usul yang berbeda.
Karena dulunya ia adalah manusia biasa.
Namanya Ki Juru Taman, abdi dalem setia Keraton Mataram yang bertugas sebagai penjaga taman kerajaan.
Suatu ketika, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram, menerima "endhog jagad" atau telur dunia, pemberian dari Nyai Roro Kidul sang penguasa Laut Selatan.
Baca Juga: Pieter Huistra Masih Belum Puas PSS Sleman Kalahkan Kendal Tornado FC
Entah karena kelalaian atau kesengajaan, telur sakral itu justru tertelan oleh Ki Juru Taman.
Seketika itu juga, tubuhnya berubah wujud menjadi raksasa besar berwajah menyeramkan dan mengejutkan seisi keraton.
Panembahan Senopati yang terlanjur bersedih hati akhirnya memberi titah kepada sang abdi dalem yang telah berubah wujud itu untuk menjaga puncak Merapi selamanya.
Menyelamatkan rakyat Mataram dari amukan gunung ini kapan saja dibutuhkan.
Baca Juga: Lima Musim Perkuat PSS Sleman, Achmad Zidan Ar Rosyid Kini Perkuat Persela
Sejak saat itulah, Ki Juru Taman dikenal dengan nama barunya, Kyai Sapu Jagad, penunggu tertinggi Gunung Merapi.
Sebagai balas jasa atas pengorbanannya, Keraton Yogyakarta dan Surakarta menyisihkan sebagian hasil bumi setiap tahun dalam bentuk sesaji.
Dipersembahkan langsung kepadanya lewat tradisi Labuhan yang masih lestari hingga saat ini.
Bagi masyarakat sekitar, Kyai Sapu Jagad dipercaya sebagai penentu meletus tidaknya Merapi.
Sosok paling berpengaruh di antara seluruh penunggu gaib gunung ini, dibantu dua panglimanya, Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat.
Baca Juga: Registration Ban Persib Bandung Resmi Berakhir, Ini Alasan Pangeran Biru masuk Daftar FIFA Tersebut
Di samping hal itu, muncul sebuah pertanyaan.
Kenapa cerita semacam ini bisa terus lestari, bahkan dipelihara sampai berabad-abad?
Sosiolog UGM, Prof Heru Nugroho, punya jawaban yang cukup mengejutkan.
Menurutnya, mitologi Kyai Sapu Jagad tidak muncul begitu saja secara alami dari kepercayaan rakyat semata.
Ia justru sengaja diproduksi oleh Keraton Mataram, sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Baca Juga: Air Terjun Sri Gethuk: Wisata Suguhkan Gemericik Air dan Keasrian Alam Penawar Penat di Yogyakarta
Kyai Sapu Jagad dijadikan sebagai mitra politik penguasa Merapi, sementara Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, diposisikan sebagai permaisuri simbolis raja Mataram.
Dengan begitu, raja tidak sekadar berkuasa atas manusia, tapi juga digambarkan berhasil menjalin aliansi dengan kekuatan gaib penguasa darat dan laut sekaligus.
Rakyat pun diposisikan sebagai pengikut yang menjalankan ritual, sementara hanya raja dan elite spiritual tertentu yang dipercaya mampu berkomunikasi langsung dengan kedua penguasa gaib tersebut.
Baca Juga: PSG vs Aston Villa, Luis Enrique Ingin Les Parisiens Awali Musim dengan Trofi UEFA Super Cup
Jadi mitos Kyai Sapu Jagad mungkin bukan sekadar cerita rakyat.
Ia adalah bagian dari cara kekuasaan Jawa lama membangun legitimasinya.