RADAR JOGJA - Di tengah ramainya malam Kota Yogyakarta, Alun-Alun Kidul selalu menjadi magnet bagi wisatawan.
Di area selatan Keraton ini, terdapat dua pohon beringin besar yang berdiri kokoh di tengah lapangan.
Keduanya dikenal sebagai Beringin Kembar, dan menjadi pusat dari tradisi unik bernama Masangin, sebuah ritual berjalan melewati dua pohon tersebut dengan mata tertutup.
Asal-Usul dan Makna
Tradisi Masangin memiliki akar sejarah panjang.
Pada masa lalu, Alun-Alun Kidul merupakan bagian penting dari wilayah Keraton Yogyakarta yang digunakan untuk latihan prajurit serta tempat digelarnya ritual topo bisu setiap malam 1 Suro.
Dua pohon beringin dianggap memiliki makna simbolis sebagai penjaga dan pelindung wilayah keraton, sekaligus lambang keseimbangan dan keteguhan hati.
Nama “Masangin” sendiri berasal dari ungkapan Jawa masuk di antara beringin.
Dalam kepercayaan masyarakat, siapa pun yang berhasil berjalan lurus melewati celah kedua pohon dengan mata tertutup dianggap memiliki niat yang bersih, hati yang jujur, serta akan memperoleh keberuntungan.
Sementara kegagalan melewati dianggap pertanda kurangnya konsentrasi atau kemurnian niat.
Mitos dan Kepercayaan
Masyarakat setempat meyakini bahwa beringin kembar ini memiliki kekuatan magis. Dahulu, area di sekitar pohon dipercaya sebagai benteng gaib yang melindungi keraton dari bahaya.
Seiring waktu, mitos berkembang menjadi keyakinan bahwa siapa pun yang berhasil melewatinya dapat mengabulkan keinginan tertentu, mulai dari harapan jodoh hingga kesuksesan.
Meski demikian, bagi sebagian orang, Masangin dipandang sebagai simbol refleksi diri.
Tantangan untuk berjalan lurus dengan mata tertutup dianggap sebagai ujian kesabaran, fokus, dan pengendalian pikiran.
Nilai-nilai itu menjadi bagian dari filosofi hidup masyarakat Jawa yang menekankan keseimbangan antara raga dan batin.
Fenomena Wisata dan Budaya
Kini, tradisi Masangin telah bertransformasi menjadi daya tarik wisata malam yang populer.
Setiap hari, terutama pada akhir pekan, ratusan wisatawan datang untuk mencoba berjalan di antara beringin kembar.
Banyak di antara mereka yang menjadikan ritual ini sebagai tantangan seru, bahkan diabadikan dalam unggahan media sosial.
Pedagang di sekitar lokasi menyediakan kain penutup mata bagi pengunjung, sementara suasana sekitar dipenuhi lampu becak hias dan tawa para wisatawan.
Meski unsur hiburannya semakin menonjol, masyarakat dan pengelola wisata tetap berupaya menjaga kesakralan tradisi serta kelestarian lingkungan pohon beringin.
Pelestarian dan Nilai Filosofis
Pemerintah daerah bersama pihak Keraton mendorong agar kawasan Alun-Alun Kidul tetap dijaga kebersihannya dan pohon beringin dirawat secara berkala.
Pelestarian ini bukan hanya soal menjaga warisan budaya fisik, tetapi juga mempertahankan makna filosofis di baliknya.
Tradisi Masangin mencerminkan upaya masyarakat Jawa untuk tetap terhubung dengan nilai-nilai leluhur, seperti kesabaran, kejujuran, dan keseimbangan hidup.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus wisata modern, ritual ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarana untuk memahami jati diri. (Retno Anggi Kusuma Dewi)