RADAR JOGJA - Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, tetapi juga menyimpan jejak masa lampau dari Kerajaan Mataram Kuno.
Kerajaan yang juga dikenal sebagai Kerajaan Medang ini berdiri sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.
Menurut Prasasti Canggal yang ditemukan di lereng Gunung Wukir (732 M), kerajaan ini didirikan oleh Wangsa Sanjaya dan berpusat di wilayah “Bhumi Mataram” yang mencakup kawasan Jawa Tengah hingga Yogyakarta saat ini.
Mataram Kuno yang bercorak Hindu (dan Buddha) biasanya disebut untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri sekitar abad ke 16 M.
Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya, di daerah inilah diperkirakan Kerajaan Mataram Kuno pertama berdiri.
Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno berasal dari prasasti, candi, kitab Carita Parahyangan (Sejarah Pasundan), dan berita dari Cina.
Kerajaan yang didirikan oleh Sanjaya bergelar Rakai Mataram ini beberapa kali berpindah pusat pemerintahan.
Peninggalan paling terkenal dari Kerajaan Mataram Kuno di wilayah Yogyakarta adalah kompleks Candi Prambanan, yang dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.
Prasasti Siwagrha menyebut candi ini sebagai persembahan bagi dewa Siwa dan menjadikannya candi Hindu terbesar di Indonesia.
Selain Prambanan, terdapat pula Candi Sari di Kecamatan Kalasan, Sleman, yang berfungsi sebagai vihara bagi para biksu Buddha.
Keberadaannya memperlihatkan bagaimana kerajaan ini menjadi pusat sinkretisme agama Hindu-Buddha.
Baca Juga: Rumah Tangga Raisa dan Hamish Daud Diterpa Isu Retak, Foto Anniversary Dihapus dari Instagram
Tidak hanya candi besar, peninggalan Mataram Kuno di Yogyakarta juga mencakup candi-candi yang baru ditemukan seperti Candi Kedulan dan Candi Kimpulan di Sleman.
Kedua candi ini sempat terkubur material vulkanik dan baru ditemukan kembali pada abad ke-20, menunjukkan betapa letusan Gunung Merapi berperan dalam menghancurkan sekaligus mengubur kejayaan masa lalu.
Selain candi, prasasti juga menjadi bukti penting.
Prasasti Kalasan, Kelurak, dan Mantyasih mencatat pembangunan candi, arca, hingga sumbangan raja kepada masyarakat.
Prasasti-prasasti ini umumnya ditulis dengan bahasa Sanskerta menggunakan huruf Pranagari, menandakan hubungan erat kerajaan ini dengan tradisi India kuno.
Jejak Mataram Kuno di Yogyakarta bukan sekadar benda mati.
Ia adalah pengingat bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat politik, budaya, dan spiritual.
Relief, prasasti, hingga kolam suci atau petirtaan yang masih bertahan hingga kini menyimpan misteri besar tentang kehidupan masyarakat pada masa itu.
Sejarawan meyakini bahwa perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok pada tahun 929 M bukan hanya akibat faktor politik, tetapi juga karena bencana alam besar seperti letusan Merapi yang meluluhlantakkan Bhumi Mataram.
Hingga hari ini, peninggalan Mataram Kuno di Yogyakarta masih menjadi magnet wisata sejarah sekaligus laboratorium budaya.
Setiap pahatan batu candi, setiap prasasti, dan setiap legenda di baliknya bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga identitas yang terus hidup dalam denyut budaya Yogyakarta. (Chintya Maharani)
Editor : Meitika Candra Lantiva