RADAR JOGJA - Gunung Slamet, menjulang setinggi sekitar 3.428 meter di atas permukaan laut dan membentang di lima kabupaten (Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga), tidak hanya memikat hati pendaki karena keindahan alamnya.
Di balik kabut, rintihan angin, dan hutan lebat, terhampar kisah mistis dan mitologi.
Bagi para pendaki, Slamet menawarkan pemandangan menakjubkan sekaligus suasana penuh misteri.
Di kalangan pendaki, Pos Samarantu menjadi salah satu titik yang paling sering dibicarakan.
Banyak yang percaya tempat ini adalah semacam “gerbang” menuju dunia gaib.
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara gamelan, riuh seperti pasar malam, atau melihat sosok samar menyerupai manusia yang kemudian menghilang begitu saja.
Pos ini terletak antara pos 3 dan pos 4 pada jalur pendakian melalui jalur Guci atau Blambangan dan memiliki reputasi sebagai tempat yang kerap dihubungkan dengan dunia gaib.
Nama "Samarantu" sendiri berasal dari kata "samar" dan "antu", yang berarti sesuatu yang tak terlihat.
Menurut legenda yang beredar, tempat ini dipercaya sebagai pintu masuk menuju dunia makhluk halus.
Banyak pendaki yang melaporkan bahwa mereka merasakan kehadiran sosok-sosok tak terlihat yang mengikuti atau mengawasi mereka di sepanjang jalur ini.
Bahkan, beberapa pendaki mengaku melihat bayangan hitam atau sosok misterius yang muncul di antara kabut.
Konon, jika tidak berhati-hati, pendaki bisa berputar-putar di lokasi ini tanpa sadar, seolah ada kekuatan yang mengganggu arah perjalanan.
Karena itu, masyarakat sekitar selalu mengingatkan agar siapa pun yang melewati Pos Samarantu menjaga ucapan, sopan santun, dan tidak berbuat sembrono.
Sementara itulah mitologi lokal memerciki kerangka cerita dengan tokoh-tokoh seperti Mbah Jamur Dipa dan Mbah Rantasari, yang dipercaya menjadi penunggu gunung.
Makhluk-makhluk halus ini kerap diasosiasikan sebagai intermediat yang menerima permohonan, memberi petunjuk, atau bahkan menjatuhkan hukuman pada pendaki yang tak menghormati aturan tak tertulis di gunung.
Di sisi lain, ada kisah tentang manusia kerdil yang menjadi legenda tersendiri di lereng dan rimba sekitar Slamet.
Konon, makhluk kecil setinggi sekitar 50–60 cm ini berkulit kemerahan, dan kadangkala muncul tiba-tiba untuk menghilang secepat angin ketika didekati.
Beberapa penelusur mistis menyebut bahwa manusia kerdil itu dahulu adalah pendaki yang tersesat, kehilangan arah dan identitas, hingga “berubah” dalam proses bertahan hidup.
Jejak kaki mungil di tanah lembap atau suara langkah halus ketika malam pekat sering dihubungkan dengan keberadaannya.
Tak lengkap rasanya membahas mitos tanpa menyebut sebuah ramalan yang menempel kuat dalam kepercayaan lokal: bahwa apabila gunung ini benar-benar meletus dahsyat, Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua.
Ramalan ini sering dikaitkan dengan karya sastra Jawa kuno dan legenda Jayabaya.
Meskipun dari sisi ilmiah tidak ada bukti konkret bahwa hal ini akan terjadi, mitos ini tetap menambah aura sakral dan ngeri di kalangan pendaki.
Gunung Slamet, dengan segala kemisteriusannya, tetap menjadi magnet bagi jiwa petualang dan pencari kisah gaib.
Di balik kabut dan malam pekat, terdapat dunia bayangan yang menunggu diungkap selama pendaki berani melewati batas antara yang kasat mata dan yang hanya bisa dirasakan hati. (Chintya Maharani)