RADAR JOGJA - Di balik keindahan alam dan budaya Bali yang memikat, tersembunyi kisah-kisah misteri yang sudah turun-temurun diceritakan oleh masyarakat lokal.
Salah satu urban legend yang paling menyeramkan namun belum banyak dikenal luas adalah Gregek Tungkgek, sosok hantu wanita yang disebut-sebut sering menghantui desa-desa di malam hari.
Kisah ini begitu mengerikan hingga disebut mampu membuat orang jatuh sakit hanya karena melihat penampakannya.
Asal Usul Nama "Gregek Tungkgek"
Nama Gregek Tungkgek berasal dari bahasa Bali.
Kata "gregek" menggambarkan kondisi tubuh menggigil atau merinding karena ketakutan, sementara "tungkgek" adalah suara napas berat, seperti orang sekarat atau makhluk yang mengeluarkan suara lirih namun menakutkan di tengah malam.
Nama ini sangat menggambarkan karakter hantu ini: membuat orang menggigil ketakutan dan terdengar melalui napas beratnya sebelum muncul.
Penampakan
Gregek Tungkgek diceritakan sebagai sosok wanita berambut panjang menjuntai hingga ke tanah, mengenakan pakaian tradisional Bali yang lusuh dan basah, seolah baru keluar dari kuburan.
Wajahnya sering tak terlihat jelas, namun banyak yang menyebut matanya merah menyala, dan ia mengeluarkan suara napas seperti orang megap-megap, perlahan tapi menghantui.
Yang membuatnya lebih menyeramkan, ia disebut-sebut muncul bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menjemput, baik nyawa, maupun orang yang punya hutang karma atau dosa besar yang belum ditebus.
Legenda Mengerikan di Balik Sosoknya
Menurut cerita warga, Gregek Tungkgek dulunya adalah seorang wanita desa yang dibunuh dengan kejam oleh keluarganya sendiri karena dituduh membawa malu.
Ia mati dengan penuh dendam dan tidak diterima oleh bumi.
Arwahnya pun gentayangan, menunggu malam sunyi untuk mencari pelampiasan.
Beberapa orang percaya bahwa ia muncul terutama menjelang Tilem (bulan mati dalam kalender Bali), saat energi negatif sedang kuat-kuatnya.
Ada juga yang percaya ia menghantui orang-orang yang suka bergosip, berkhianat, atau mengingkari janji spiritual.
Kisah Nyata dari Warga
Di sebuah desa kecil di Bali bagian utara, ada kisah seorang pria yang mengaku mendengar suara napas berat di belakangnya saat pulang larut malam.
Saat menoleh, ia hanya melihat rambut panjang menjuntai di atas tanah.
Ia langsung pingsan dan bangun keesokan paginya dengan demam tinggi.
Warga percaya, itu ulah Gregek Tungkgek yang “hanya lewat” tapi tetap meninggalkan jejak rasa takut yang dalam.
Konon beberapa tetua adat menyarankan untuk tidak berjalan sendirian di malam hari, apalagi di jalan-jalan yang sepi dan lembap.
Membawa dupa atau canang sari dipercaya bisa menjauhkan energi negatif.
Ada juga yang menyarankan mengucapkan doa khusus atau membawa jimat penolak bala. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva