RADAR JOGJA - Boneka Cowongan adalah sebuah warisan budaya yang berasal dari Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Boneka ini sebagai media dalam tradisi cowongan yang merupakan ritual untuk memanggil atau mendatangkan hujan dibantu alat seperti siwur (gayung) atau irus (centong sayur), kemudian dihias seperti boneka perempuan.
Boneka cowongan bukan hanya sekadar mainan, tetapi juga sarat akan makna filosofis dan sejarah yang mendalam, serta memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Banyumas.
Sejarah Tradisi Cowongan
Boneka Cowongan pertama kali muncul sekitar abad ke-19 dan berkembang di wilayah Banyumas.
Cowongan berasal dari kata "cowong" yang berarti lubang atau rongga, yang merujuk pada bentuk boneka ini yang memiliki rongga di bagian tengah tubuhnya.
Boneka ini dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan pelindung dari berbagai hal buruk.
Bentuk dan fungsi boneka yang memiliki rongga di tengahnya melambangkan keterbukaan hati dan penerimaan terhadap hal-hal baik dan buruk yang datang dalam kehidupan.
Rongga tersebut diharapkan bisa menampung segala sesuatu yang datang, baik itu berkat maupun ujian, dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.
Boneka Cowongan umumnya terbuat dari bahan-bahan alami, seperti tanah liat, kayu, atau bambu.
Di masa lalu, tanah liat merupakan bahan utama yang digunakan untuk membuat boneka ini.
Proses pembuatannya memerlukan ketelatenan dan keterampilan tangan yang tinggi.
Tradisi Cowongan di Banyumas
Tradisi Cowongan diyakini dapat membawa keberuntungan dan menjauhkan bencana atau malapetaka bagi masyarakat Banyumas.
Alur upacara Boneka Cowongan biasanya dimulai dengan persiapan tempat dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk upacara seperti sesajen.
Sesajen dianggap sebagai media penghubung untuk berkomunikasi antara dua dimensi (alam gaib dan alam nyata).
Pemimpin Tradisi Cowongan atau disebut dengan dukun pada prosesnya ditemani oleh para wanita yang suci atau tidak dalam keadaan menstruasi, tidak nifas, dan tidak melakukan hubungan seksual.
Para wanita dalam upacara mengiringi boneka cowong dengan tembang-tembang jawa yang fungsinya sebagai ungkapan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selama upacara berlangsung, Boneka Cowongan dikelilingi oleh berbagai sesajen dan dupa, yang dipercaya dapat mengundang keberuntungan dan mengusir hal-hal buruk.
Masyarakat Banyumas juga melakukan ritual doa kepada sosok Dewi Sri yang diyakini lambing dari ingkang mbaurekso ladang sawah dan penurun hujan.
Diketahui bahwa sosok Dewi Sri merupakan interpretasi sebuah kerinduan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi Masyarakat Banyumas, Tradisi Cowongan tidak bertentangan dengan ajaran islam karena salah satu syarat dikatakan sebagai orang beriman adalah mempercayai sesuatu yang ghaib (Alladziina yu’minuna bil ghoib).
Kebudayaan Jawa dengan agama islam dianggap sesuatu yang sangat kontras dan tidak bisa terhubung karena akibat dari perspektif sinkretisme Islam.
Kepercayaan ini sangat erat kaitannya dengan tradisi pertanian masyarakat Banyumas yang sangat bergantung pada musim hujan untuk keberhasilan hasil panen mereka.
Dalam kepercayaan masyarakat, Boneka Cowongan dipakai dalam upacara sebagai alat untuk memohon hujan, terutama ketika musim kemarau berkepanjangan dan petani merasa cemas dengan kekeringan yang dapat mempengaruhi hasil pertanian.
Kepercayaan ini menurunkan atau mencontoh konsep ajaran wali songo yang memadukan budaya jawa dengan agama islam di dalamnya.
Upacara pemanggilan hujan ini biasanya dilakukan dengan melibatkan Boneka Cowongan yang diletakkan di tengah sawah atau di tempat yang dianggap strategis.
Boneka tersebut ditempatkan di bawah langit terbuka, dan sesajen berupa bahan-bahan alami serta dupa dibakar di sekitarnya.
Doa dan mantra khusus yang dipanjatkan pada upacara ini berisi permohonan agar Tuhan mengirimkan hujan untuk menyuburkan tanah dan memberi keberkahan bagi hasil pertanian.
Sosok Seniman Eksentrik Di Balik Tradisi Cowongan Banyumas
Titut Edi Purwanto atau yang dikenal sebagai Mbah Titut merupakan seniman asal Banyumas yang terkenal sebagai sosok yang eksentrik.
Selain sebagai seniman, ia juga berprofesi sebagai petani lokal yang lahir pada tanggal 28 September 1965.
Sosok Mbah Titut memiliki penampilan yang mirip seperti dukun bagi masyarakat pada umumnya mengingat ciri khas rambutnya yang panjang dan keunikan interior rumahnya yang penuh dengan boneka mistis.
Bahkan salah satu yang ikonik dari tempat tinggalnya adalah beberapa boneka pocong yang terpajang secara vulgar ditembok rumahnya sebagai simbol kematian bagi Mbah Titut sendiri.
Salah satu karya Mbah Titut adalah cowong sewu, yang pada mulanya tradisi cowong dikenal sebagai ritual mistik, kemudian diubah menjadi sebuah pertunjukkan kesenian.
Dia meraih penghargaan atas dedikasinya di Padepokan Seni Cowong Sewu sejak 2006.
Padepokan Cowong Sewu sering menggelar pertunjukkan seni hingga action painting.
Boneka Cowongan sebagai boneka pemanggil hujan menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara budaya, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Banyumas.
Selain sebagai simbol pelindung dan pembawa berkah, boneka ini juga menjadi medium yang menyatukan harapan masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam dan keberhasilan dalam pertanian.
Dengan kepercayaan ini, Boneka Cowongan menjadi simbol penting dalam upacara adat yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. (Adinda Fatimatuzzhra)
Editor : Meitika Candra Lantiva