Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tradisi Njaluk Udan Warga Giripurwo Gunungkidul tiap Jumat Kliwon di September dan Oktober, Teriakkan ‘Hujan'

Andi May • Selasa, 24 September 2024 | 12:50 WIB

 

   Tradisi
  Tradisi

 

RADAR JOGJA - Kemarau panjang membuat warga sulit mendapatkan air. Hal itu mengganggu pertanian, mandi, minum, memasak dan lain-lain. Warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul punya tradisi tiap kemarau.

 

Warga setempat melakukan upacara adat 'Njaluk Udan' dengan dengan maksud berdoa meminta hujan turun kepada Tuhan. Tradisi rutin dilakukan setiap tahun selama musim kemarau.

Lurah Giripurwo Supriyadi menceritakan, tradisi adat meminta hujan biasanya dilakukan pada Jumat Kliwon pada September dan Oktober. Sebab, waktu-waktu itu mendekati masa tanam untuk pertanian. 

"Mulai dari pagi di Jumat Kliwon warga Padukuhan Klampok dan Gumbeng mempersiapkan Ubo Rampe sebagai perlengkapan upacara adat 'Njaluk Udan'," ujar Supriyadi saat dihubungi, Senin (23/9).

Baca Juga: Penghujan Selalu Genangi Sawah, Kemarau Debit Air Sungai Dulang dan Jali di Desa Krandegan, Purworejo Surut

Baca Juga: Demi Menjaga Konsistensi Prestasi, KONI DIY Segera Lakukan Evaluasi Hasil PON XXI

Kemudian, warga bersama tokoh masyarakat menuju tempat pertapaan bernama Andongsari yang terletak di atas bukit atau gunung dengan diiringi kesenian tari-tarian tradisional.

Sesampainya di bukit pertapaan, Supriyadi melanjutkan, tokoh adat mengajak warga untuk berdoa bersama. "Ada teriakan ‘hujan’ sebagai pertanda meminta hujan kepada Allah SWT," ucapnya.

Dalam kegiatan tradisional itu, kata Supriyadi, warga telah menyiapkan sajian makanan dan ingkung yang akan disantap usai berdoa bersama. Mereka juga membawa kelapa muda untuk diminum usai makan. 

"Makanan maupun minuman juga didoakan oleh sesepuh atau tokoh adat," tuturnya.

Supriyadi menjelaskan, tradisi Njaluk Udan telah dilakukan oleh nenek-nenek moyang terdahulu. Selain melestarikan, tradisi juga diharapkan dapat mendatangkan hujan yang telah lama tidak membasahi tanah di wilayah tersebut.

Baca Juga: Jumlah Penumpang dan Angkutan Udara Fluktuatif, Rute Penerbangan Baru di YIA Diharapkan Dongkrak Kunjungan Wisatawan

Baca Juga: Inflasi DIY Terjaga Selama 10 tahun Terakhir, Ditargetkan Berada di Kisaran 2,5 Persen pada 2024

Apalagi, sulitnya air bersih telah dilaksanakan sejak berbulan-bulan lalu. Kemarau panjang yang belum usai dikhawatirkan menggangu pertanian masyarakat memasuki masa tanam.

"Kemarau panjang sekarang membuat aktivitas pertanian kami benar-benar terhanti, harapan kami hujan bisa segera turun," ucapnya.

 

Namun begitu, warga setempat juga telah menerima bantuan air bersih dari pemerintah setempat. Akan tetapi, ketersediaan air hanya diperuntukkan sebagai mandi dan minum serta tidak untuk pertanian.

"Biasanya juga warga membeli dengan harga Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu pertangkinya," imbuhnya. (pra).

Editor : Heru Pratomo
#oktober #Pertanian #Gunungkidul #Kemarau Panjang #Hujan #Udan #Allah SWT #Air #Purwosari #tradisi #jumat kliwon