RADAR JOGJA - Jika berada di Yogyakarta dan melintasi Alun-alun Kidul (selatan) kamu akan menjumpai dua pohon beringin yang tumbuh subur di tengah-tengah lapangan.
Bukan sembarangan pohon beringin, pohon ini rupanya menyimpan cerita misteri yang berkembang di masyarakat.
Konon dua pohon beringin kembar itu menjadi ikon kesatuan hingga menyimpan cerita mistis di kalangan masyarakat sekitar.
1. Tradisi budaya Masangin atau ujian kesucian hati
Tradisi Masangin ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat asli yogyakarta dan para pengunjung.
Dalam tradisi ini, seseorang diberikan tantangan untuk dapat berjalan lurus melewati celah di antara dua pohon beringin kembar yang berada di tengah-tengah lapangan Alun-Alun Selatan dengan mata yang ditutup.
Jika dilihat dari luar tantangan tersebut terlihat mudah.
Namun saat dicoba, tak khayal banyak yang gagal.
Kegagalan tersebut terkadang menimbulkan spekulasi yang dihubungkan dengan kekuatan mistis.
Ditambah cerita yang beredar di lingkungan masyarakat.
Konon mereka yang dapat melewati tantangan dan berhasil ke tengah-tengah di antara pohon beringin kembar orang tersebut cocok dijadikan pemimpin atau memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.
Hanya individu yang mempunyai hati ikhlas dan murni yang dapat berhasil melalui celah dua pohon kembar itu.
Konon mereka yang gagal sering merasakan kekuatan-kekuatan ghaib yang ada disekitar mereka untuk membelokkan jalur mereka agar gagal, walaupun mereka sudah percaya telah berjalan lurus.
2. Kisah mistis lain dibelakang Pohon Beringin Kembar
Misteri yang terdapat pada pohon beringin kembar itu tidak terbatas pada tradisi Masangin saja.
Terdapat banyak cerita mistis lain yang sudah ada pada lingkungan masyarakat terkait pohon ini.
Banyak pengunjung atau wisatawan mengakui kalau mereka merasakan perubahan suhu yang mendadak, diawasi oleh makhluk lain, hingga diganggu melalui pendengaran didekat pohon itu.
Alasan itu lah yang membuat mereka yang menerima tantangan dapat kehilangan arah meskipun sedang ada di lapangan tengah yang luas.
Cerita-cerita itu berujung pada ada penjaga makhluk halus yang beberapa orang khusus saja yang dapat melihatnya.
Makhluk itu dipercaya akan memberi pengaruh terhadap jalannya tantangan Masangin.
Berbagai orang yang belok arah merasa bahwa mereka didorong kearah berbeda oleh makhluk ghaib tersebut.
3. Relasi Kraton dengan Pohon Beringin Kembar
Jika melihat dari spiritual, Pohon Beringin mempunyai arti yang dalam dalam budaya Jawa.
Pohon ini sering kali diakui sebagai tempat tunggunya roh-roh leluhur atau penjaga, yang dipercaya oleh masyarakat jawa memiliki aura yang kuat.
Pohon ini juga disebut sebagai simbol keseimbangan duniawi dan spiritual. Kraton Yogyakarta, yang terletak dekat dengan Alun-Alun Selatan, menjadikan pohon beringin kembar sebagai bagian tak terpisahkan dari tata ruang sakralnya.
Keyakinan tersebut sampai pada pohon yang ditandai sebagai pusat energi spiritual penting.
Konon ada hubungannya dengan kraton, sehingga semakin menambah dimensi kemistisan yang terdapat pada pohon itu.
4. Sudut Pandang Ilmiah
Terdapat suatu teori ilmiah yang menjelaskan fenomena beloknya arah pada tradisi masangin.
Teori ini dicetuskan oleh Ilmuwan bernama Sir Charles Sherrington.
dia dikenal sebagai “Bapak Neurofisiologi Modern” mempelajari bagaimana tubuh manusia dapat merasakan dan merespons posisi dan gerakan, serta perang propriosespsi dalam menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Teori ini menjelaskan bahwa ketika seseorang berjalan dengan mata tertutup, maka mereka akan mengandalkan pripriosepsi untuk mengarahkan langkah mereka.
Namun hal itu dilakukan tanpa indra visual.
Kemudian propriosepsi itu tidak selalu akurat, yang sering membuat seseorang dapat menyimpang dari jalan lurus, hal ini sangat cocok dalam mendeskripsikan fenomena tradisi masangin yang dapat berbelok dari jalan lurus.
Terlepas dari berbagai sudut pandang di atas, tradisi masangin dan kemistisan tersebut masih dipercaya kuat dan dapat dijadikan sebagai budaya serta menjadi simbol kesatuan bagi masyarakat Yogyakarta. (Muhammad Affan Himawan)
Editor : Meitika Candra Lantiva